Mostrando entradas con la etiqueta Ananda Sukarlan Award. Mostrar todas las entradas
Mostrando entradas con la etiqueta Ananda Sukarlan Award. Mostrar todas las entradas
martes, 21 de junio de 2016
"Keindahan alam, keindahan musik kamar, keindahan berbagi" (article for Kompas Klass)
Last May, another article of mine was also published by KOMPAS. It was cut and heavily edited to fit the profile of the KOMPAS readers. The title of the published article was changed into 'Turisme, Ketika Musik Jadi "Panglima" ' . So, here I post my original article (pretty different in style than the published one!). .............................................................................................................................................
"Keindahan Alam, Keindahan Musik Kamar, Keindahan Berbagi" .............................................................................................................................................
oleh Ananda Sukarlan, pianis & komponis .............................................................................................................................................
Ketika penulis meramalkan booming-nya musik sastra terutama di dunia piano di Indonesia, penulis tidak menyangka bahwa hal ini terjadi sangat cepat. Setahun terakhir ini, entah ada hubungannya dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) atau tidak, ditandai dengan membludaknya musikus asing di Indonesia untuk mengajar dan berkonser, bukan hanya dari ASEAN tapi dari Eropa dan Amerika. .............................................................................................................................................
MEA tidak hanya membuka arus perdagangan barang dan jasa, tetapi juga pasar tenaga kerja profesional, termasuk karya seni. Apakah seniman dan karya kita sudah mampu bersaing dengan negara-negara ASEAN lainnya? Banyak dari kita yang belum menyadari bahwa kompetisi semakin ketat, dan teamwork sangat dibutuhkan bukan hanya dari satu bidang, tapi antar bidang. .............................................................................................................................................
Arnuero adalah kota kecil bagian dari Taman Nasional Trasmiera, di tepi pantai utara Spanyol dengan penduduk sekitar 2000 orang. Keindahannya terletak terutama dari sungai Soane yang bermuara ke laut Atlantik. Di sana diadakan kompetisi musik yang selama 10 tahun berskala nasional, dan berkembang ke internasional 4 tahun terakhir. Kompetisi diadakan di dua tempat : konser pembukaannya di Gereja Asuncion dimana patung dan ukiran altarnya dianggap salah satu yang terbaik di Spanyol dari zaman Renaissance, serta di Casa de las Mareas (terjemahan harafiahnya: Gedung di atas ombak), sebuah gedung unik berkapasitas hanya sekitar 100 kursi yang berlantai --dan juga berdinding-- dari kaca di atas sungai Soano sehingga kita bisa melihat ikan-ikan di sungai di bawah telapak kaki ketika kita berada di dalam gedung itu. .............................................................................................................................................
Kenapa desa yang notabene tidak memiliki gedung konser yang cukup memadai ini menyelenggarakan sebuah kompetisi musik internasional? Tujuannya tidak lain adalah untuk memposisikannya di peta musik sastra seperti yang sejak 14 tahun yang lalu diinginkan Walikota (tepatnya Wali Desa) Arnuero. Fokus itu lebih spesifik lagi, yaitu format musik kamar (chamber music): grup musik terdiri dari 2-5 musikus. Diharapkan para penonton datang ke sana untuk menikmati musik DAN keindahan alamnya. Dengan kata lain: turisme melalui musik, sama halnya seperti Salzburg yang membuat kita ingat kepada kota kelahiran Mozart --dan setelah tahun 1965 melalui film The Sound of Music. Dan musik kamar tidak lagi berarti piano dan biola saja, tapi kombinasi "aneh" seperti trio flute, kwartet saxofon atau formasi peserta Indonesia (bahkan Asia) pertama yang mengikutinya, Duo Schoko yang terdiri dari gitaris Theduardo Prasetyo dan pemain biola Giovani Biga. .............................................................................................................................................
Dan Duo Schoko ini lah yang telah menggores sejarah di kompetisi yang kini paling terkemuka untuk musik kamar di Spanyol ini: mereka berhasil masuk babak Grand Final. Sayang sekali nilai yang mereka capai masih sedikit dibawah juara II, dan tidak ada predikat juara III di kompetisi ini. Meskipun demikian, Giovani Biga meraih penghargaan sebagai Instrumentalis Terbaik. Perlu dicatat, juara I dan II dimenangkan oleh formasi yang sangat "klasik" yaitu Trio Piano - Biola - Cello, dua-duanya dari Spanyol. Jika kita hanya membaca buku acara, Duo Schoko "kalah pamor" dengan formasi biola - gitarnya yang masih langka, "aneh" dan tentu saja kekayaan repertoire-nya yang masih sangat sedikit. Apalagi usia mereka yang masih sangat muda: masing-masing 20 tahun, dan masih tahun kedua di Konservatorium (setingkat Universitas) di Detmold, Jerman dan berawal sebagai sesama siswa Indonesia yang saling curhat soal kangen mie instan dan nasi Padang. Jadi, sebetulnya formasi mereka adalah "terpaksa" karena tidak ada siswa Indonesia lainnya. Tapi, mereka membuktikan bahwa "keterpaksaan" itu membuahkan orisinalitas -- dan akhirnya kualitas, bukan hanya "asal beda". .............................................................................................................................................
Musik kamar adalah alternatif lain dari bermusik, apalagi saat kompetisi piano di Indonesia semakin menjamur ke berbagai arah, baik negatif maupun positif. Indonesia mungkin negara dengan jumlah kompetisi piano terbanyak di dunia saat ini: setiap bulan, bahkan kadang setiap 2 minggu ada kompetisi sehingga jika seorang pianis muda (atau orangtuanya) tiba-tiba melihat jadwal kosong, ia bisa saja ikut sebuah kompetisi secara acak. Memang ini adalah situasi yang kelihatannya mengagumkan, beda dengan keadaan di Eropa misalnya, yang cuma ada 2-3 kompetisi setahun di tiap negara. Tapi, kompetisi di Indonesia itu masing-masing memiliki aturan sendiri yang sering tanpa berdasarkan nilai artistik dan/atau edukatif, dengan kriteria penilaian yang seringkali cukup "unik". Dengan banyaknya pianis "juara" dari berbagai kompetisi ini, apakah para juara ini masih punya nilai tambah untuk menarik penonton di dunia musik sastra? Alternatif yang tepat sekarang adalah grup musik kamar. .............................................................................................................................................
Selain itu, kenapa kompetisi di Indonesia hanya dilakukan di kota-kota besar? Dengan banyaknya lokasi yang indah di luar kota, kenapa itu tidak dimanfaatkan untuk menarik para peserta dari luar negeri juga? Selain berkompetisi, mereka juga menikmati keindahan alam Indonesia. .............................................................................................................................................
Dalam dunia seni pertunjukan, konsumen itu bukan raja. Konsumen itu teman, mitra atau rekan -- ingat, orang-orang yang minta-minta tiket gratis atau korting itu tidak termasuk kategori teman. Konsumen dan produsen adalah sederajat dan saling mengisi. Keinginan konsumen belum tentu harus dipenuhi untuk menjaga kualitas karya seni itu sendiri. Tapi, apakah ada cukup konsumen untuk menonton pianis yang notabene main Sonata-nya Beethoven yang itu-itu lagi, Ballades-nya Chopin yang itu-itu lagi? Dan jika sudah ada ribuan -- atau dalam kasus seperti di Cina, jutaan-- pianis yang dapat memainkannya dengan teknik dan presisi yang rapih, jika standar kelulusan perguruan tinggi musik bahkan memenangkan kompetisi sudah melewati titik kejenuhan, bagaimana sang konsumen memilih pemain ¨favorit¨nya? .............................................................................................................................................
Kita sekarang memiliki ribuan pianis, tapi berapa pemain flute? Cello? Apalagi yang lebih langka, seperti Horn? Dan apakah seorang pianis itu bisa berkarir secara eksklusif bermain solo? Jika kita "kalah" dengan para pemain dari luar, kita tidak bisa menyalahkan mereka. Banyak aspek dalam musik yang kita abaikan. Jurusan piano, biola dan vokal adalah "favorit" saat ini, tapi kenapa instrumen lain tidak? Dan setelah bisa bermain instrumen, kenapa kita tidak main bersama instrumentalis lain untuk menghasilkan musik yang indah dan berbeda? .............................................................................................................................................
Giovani Biga dan Theduardo Prasetyo tidak sendirian dalam mengukir prestasi dalam bidang musik kamar di luar negeri. Bahkan salah satu pianis muda terbaik kita, Edith Widayani pemenang Ananda Sukarlan Award 2010 yang terkenal dengan virtuositas permainan solonya ternyata juga berprestasi dengan trio-nya. Sejak kuliah S1 di Texas Christian University ia memang telah meraih penghargaan Judith Solomon Award untuk Chamber Music dan TCU Faculty & Friends Chamber Music Award. Kini Edith kini menjalani program Doktor Musik (S3) dan bersama teman-temannya di Auden Trio (Beiliang Zhu - cello dari Shanghai yang pemenang Bach competition di Leipzig dan Ji-yeon Lee - biola) sering mengadakan konser. .............................................................................................................................................
Kalau kita mengambil prestasi seorang non-pianis, mungkin pemain cello Christy Oscar yang saat ini kuliah di West Virginia University dapat merepresentasikannya. Bersama 3 teman kuliahnya yang juga pemain alat gesek mereka mendirikan Midas String Quartet; mereka telah memenangkan kompetisi regional MTNA (Music Teachers National Association) dan April nanti mengikuti babak final tingkat nasional yang diikuti semua juara regional di Amerika. Padahal Christy adalah pemain cello utama (principal) orkes universitasnya, yang menandakan bahwa ia juga gemilang sebagai pemain cello solois. .............................................................................................................................................
Kompetisi piano Ananda Sukarlan Award memang akan diadakan lagi bulan Juli ini. Walaupun telah melahirkan banyak pianis yang sekarang memulai karir internasional, tujuannya bukanlah menemukan SOLOIS terbaik, melainkan MUSIKUS terbaik. Jika seorang pianis memenangkan ASA, ia belumlah sempurna sebagai seorang musikus. Itu sebabnya penyelenggara sedang mempertimbangkan 1 babak tersendiri untuk bermain musik kamar di edisi tahun berikut, karena sampai sekarang belum ada kompetisi untuk musik kamar yang memang belum populer di Indonesia. Bermain solo membutuhkan teknik dan musikalitas yang tinggi, tapi bermain bersama instrumentalis / vokalis lain itu membutuhkan 2 hal tadi PLUS hal-hal lain, seperti ketajaman pendengaran untuk bersinkronisasi dengan pemain lainnya. Sebaik apapun seorang pemain, musikalitasnya tidak lengkap kalau dia tidak bisa bekerjasama di panggung, bermusik dalam satu nafas dengan keseimbangan dinamik dan ekspresi. Dibutuhkan tanggung jawab, disiplin, komunikasi serta respek terhadap pemain lain yang akhirnya membentuk karakter dan perilaku sang musikus, baik di dunia klasik maupun jazz, dimana setiap pemain punya andil yang kira-kira sama tanpa seseorang berhak "steal the show". .............................................................................................................................................
Bermain musik kamar adalah bersama membagi kebahagiaan bermusik. Jika kita membagi uang, kita akan kehilangan uang itu. Tapi jika kita berbagi musik, itu sama seperti berbagi kebahagiaan: bukannya jadi berkurang, tapi kita akan langsung mendapatkannya lagi berlipat ganda.
martes, 1 de julio de 2014
A musical "Taj Mahal", or how to immortalize love
Remember my last entry about me being stuck in my big work, and that my piano piece "In the Nick(s) of Time" saved me? Well, I'm gonna talk about it now. What I am writing now is a Chamber Symphony, for 10 instruments. It's commissioned by Prof. Dr. B.J. Habibie, Indonesia's third president and now retired from politics but still very active in the field of technology (he is a brilliant engineer and THE person who made Indonesia's first airplane back in the last century). ..............................................................................................................................................
Why a chamber symphony ? Well the commission is a kind of "musical monument" to commemorate Mr. Habibie's late wife who died recently, Mme. Ainun Habibie. The love between them has been legendary, it's been written by Mr. Habibie himself, and even made into a film. So, this is like a commission from Shah Jehan to build Taj Mahal to immortalize his wife. This time, the Taj Mahal is not a building, but a musical one. The title for now is "Chamber Symphony, in memory of Mrs. Ainun Habibie". Mr. Habibie himself explicitly asked me that this should not only be a monument to cherish her memory, but also to cherish the love between them. Therefore, I use my usual method of using names as the main motif of the work : H.A.B.I.B.I.E and A.I.N.U.N . ..............................................................................................................................................
Why 10 instruments? It's because it will be performed in The Habibie's library for its world premiere, on August 11th which is the birth date of Mme. Ainun. When he asked me to do that, I immediately went to the place of its premiere, and so it's tailor-made for the occasion. The instrumentation will be for flute, oboe (doubling english horn), clarinet, piano, percussion, harp, string quartet. Since it has a very reduced instrumentation, all parts are quite virtuosic, so it requires highly trained musicians and needs (for the time being, at least) a conductor, which will be me for the world premiere. When you learn about the instrumentation, you might realize that the loudness of each instruments might be inherently unbalanced with each other, so indeed I am very careful in that. The challenge is how to make an illusion of a grand work played by a small group. However, the performance of the winner of Ananda Sukarlan Award Piano competition last week, Anthony Hartono, inspired me a lot, and I will give more prominence to the piano part. Apparently I wasn't the only one who was so impressed with his performance, but the whole audience too. After the announcement of the winner last week, I immediately asked him if he would be available to do that, and luckily he would be. Another thing that inspires me is that Anthony is at the moment very much in love with his girlfriend, so one could feel it in the air during the competition. Together they make such a beautiful couple, that touched me deeply too. ..............................................................................................................................................
I did listen to several chamber symphonies before I determine the structure and instrumentation of the work. Mostly the major ones in musical history : Arnold Schoenberg's 2 Chamber Symphonies, and that masterpiece of masterpieces of chamber music: Aaron Copland's "Appalachian Spring" that never fails to amaze me, how the 25 minutes pass by as if it were much shorter. However, I realized that I can't listen to music anymore like a "normal" person listens to music. I am sure people are touched by beautiful melodies and harmonies, but I am touched by the intervals, the permutation of notes and how sections contrast each other. Musical anagrams work hyperactively in my head. I wonder if my Asperger Syndrome has something to do with it. Anyway, I am so immersed writing it, and it's a nice challenge for me to write intricate polyphonies for such a reduced instrumentation, so it's not improbable that there will be a Chamber Symphony no. 2. :)
domingo, 2 de marzo de 2014
My article "Piano Competition : Quo Vadis?" at KOMPAS March 2 (in Indonesian)
Yesterday, one of Indonesia's most popular newspaper KOMPAS published my article, and I'm posting it here. It is in Indonesian, so if you wanna read it in your own language, please use google translate. Not that it's accurate, but it gives you an idea of what it is :) . ..............................................................................................................................................
Kompetisi Piano, Quo Vadis ? ..............................................................................................................................................
Mulai banyak kompetisi piano yang diadakan di tanah air, menyusul iklim musik sastra (istilah yg saya rasa lebih tepat daripada "musik klasik") yang sangat hangat dan aktif saat ini. Tak dapat dihindari pergerakannya ke arah positif dan negatif. Pendidikan musik pada umumnya di usia yang sangat muda (dibawah 10 tahun) dalam artian membaca not balok dan memainkan instrumen (bukan hanya piano) memang bukan bertujuan utama untuk membuat anak-anak itu menjadi musikus di kemudian harinya, tapi lebih ke pengaktifan otak yang lebih intuitif dan kreatif, sehingga mereka akan berkembang sebagai individu yang lebih peka, bukan hanya empatis, tapi juga dalam melaksanakan kualitas pekerjaan mereka yang sering tidak berhubungan sama sekali dengan seni. Dari pendidikan tersebut, sering secara tidak sengaja ditemukan bakat-bakat musik yang kadang luar biasa yang diharapkan dapat menjadi musikus handal dikemudian harinya, di mana modal bakat saja tentu tidak cukup untuk itu. ..............................................................................................................................................
Kompetisi piano adalah salah satu wadah dimana mereka dapat menantang kualitas dirinya sendiri. Dua kata terakhir itu yang perlu diingat : dirinya sendiri. Pada dasarnya kompetisi seni apapun tidak dapat disamakan dengan kompetisi olahraga, dimana sang kompetitor memiliki "lawan" atau "rival" karena bagaimanapun subyektivitas para juri ikut memegang peran. Yang bermain musik Tschaikovsky dengan tempo lebih cepat belum tentu menang, tidak seperti di kolam renang. Yang penekanan tuts pianonya paling kuat juga belum tentu menang karena ini bukan olahraga gulat. Bahkan yang meleset memencet tuts piano pun belum tentu terkurangi nilainya, sedangkan di olahraga panah, jika anak panah tidak tepat sasaran nilainya akan berkurang. Oleh karena itu, di ajang seperti ini sang peserta diharapkan berkompetisi dengan kualitasnya sendiri, dengan perbedaan antara apa yang diharapkannya sebelum naik panggung dan kenyataan yang terjadi di panggung , seberapa besar aspirasi artistiknya bisa direalisasikan di depan penonton dan juri. ..............................................................................................................................................
Jadi, apakah tidak ada standar atau kriteria dalam penilaian juri? Tentu saja ada, hanya saja semua kriteria tersebut berhenti pada tahap teknik permainan serta pengetahuan akademik. Dan kriteria-kriteria tersebut sudah 70-80% terpenuhi oleh teknik permainan yang makin membaik oleh para pianis muda Indonesia saat ini. Setelah semua kriteria ini terpenuhi, saatnya "selera" memegang peranan. Masalahnya mulai timbul jika kompetisi dijadikan ajang "rebutan murid" oleh para guru musik yang nota bene menjadi juri di kompetisi tersebut. Dan "selera" ini bisa saja diinterpretasi dengan subyektivitas yang memang tidak bisa dihindari, bukan hanya dari kualitas permainan, tapi menjalar jadinya ke "yang ini murid saya, jadi harus saya kasih nilai lebih tinggi daripada yang lain". Bagaimanapun, nama guru akan terangkat jika muridnya memenangkan sebuah kompetisi, apalagi yang bergengsi. Masalah lain, mungkin yang paling penting tapi sering dilupakan adalah jika juri adalah seorang pendidik tapi tidak merangkap seorang "performer" (dalam artian sebenarnya, bukan hanya bermain di depan murid-muridnya atau lingkungan sekolahnya), karena ia akan melupakan satu hal yang sederhana tapi penting : penonton datang ke konser untuk "disentuh hati"nya, bukan untuk mengontrol dengan stopwatch seberapa cepat sang pianis memainkan Chopin Etude serta menghitung jumlah tuts piano yang salah pencet. Kecepatan tempo, tingkat akurasi permainan yang tinggi dll. TIDAK menjamin tingginya nilai artistik sebuah permainan piano, seperti yang saya selalu tekankan (dan sulit diterjemahkan ke bahasa Indonesia) : Music serves to express, not to impress. ..............................................................................................................................................
Indonesia sebagai salah satu pengguna terbesar media sosial di dunia , musik sastra-nya juga terwakili dengan begitu banyak pengikut Facebook dan twitter. Banyak sumber informasi yang di tulis oleh para amatir, dan beberapa dari mereka memberikan informasi (bukan hanya opini) yang kurang tepat. Dalam kasus ini hanya waktu lah yang dapat menyaring kualitas yang baik dari forum dan media tersebut yang saat ini tumbuh lebih dalam kuantitas daripada kualitas. ..............................................................................................................................................
Penulis akui bahwa kompetisi bukanlah cara terbaik untuk membangun atmosfir kesenian , tetapi sampai sekarang , inilah satu-satunya cara untuk seorang musikus muda memulai karir di musik sastra , di mana kompetisi / audisi yang disaksikan publik umum menjadi sebuah platform di mana bakat seseorang ditemukan dan diakui . Jika ada metode yang lebih baik daripada audisi / kompetisi yang "fair", metode itu harus bisa menjawab dua pertanyaan ini :
1. Bagaimana seorang produser / penyelenggara acara / komponis mendapatkan dan menemukan musikus yang berkualitas, dan sebaliknya :
2. Bagaimana musikus yang berkualitas tapi tidak memiliki koneksi, uang yang cukup dan fasilitas lain mendapatkan kesempatan, atau "exposure" untuk bisa menunjukkan karyanya?
Asumsi bahwa kompetisi / audisi itu seperti lagunya ABBA : "The winner takes it all, the loser has to fall" itu sama sekali tidak benar. Justru berdasarkan pengalaman saya mengadakan kompetisi piano internasional Ananda Sukarlan Award sejak 2008, terdapat fakta yang malah menguntungkan yang "kalah" seperti ini :
..............................................................................................................................................
1. Th 2008, Inge Buniardi memenangkan juara I, dan Edith Widayani pemenang II. Edisi berikutnya (2010), Edith Widayani menjadi pemenang pertama. Kini dua-duanya sedang melanjutkan kuliah di University of Kansas (Inge dalam program S3), dan Eastman School of Music (Edith program S2), dua perguruan tinggi yang "top" di AS, dan telah memulai karir sebagai pianis ke mancanegara.
2. Th. 2008, Randy Ryan memenangkan juara III, saat itu usianya baru 15 th. Ia ikut kompetisi lagi th. 2012, dan ia memenangkan juara I. Kini ia kuliah S1 di Juilliard School of Music, New York. Dua fakta ini tidak di"sengaja" terjadi, karena dewan juri setiap edisi berbeda, jadi mereka tidak mengenal siapa yang telah berpartisipasi di edisi sebelumnya. ..............................................................................................................................................
Ketiga pianis yg saya sebut ini kini mendapatkan beasiswa dari universitasnya untuk kuliahnya. Kesimpulan yang dapat diambil adalah, sukses sering tidak tercapai langsung dalam satu kompetisi, "kegagalan" bukan berarti kiamatnya dunia tetapi memperkaya pengalaman. Itupun saya alami di masa-masa muda saya. ..............................................................................................................................................
Dunia seni yang sangat menjunjung tinggi kualitas produknya tidak dapat lagi berkembang melalui nepotisme atau persahabatan semata. Betapapun cintanya anda terhadap istri atau anak anda (dan seringkali kasusnya merembet ke keponakan, sepupu bahkan tetangga), belum tentu ia dapat menjamin kualitas pertunjukan yang prima, betapapun besarnya usahanya dan niat baiknya selain untuk memberikan yang terbaik, juga untuk membahagiakan anda. Mengambil bagian dalam kompetisi dan bagaimana mempersiapkan diri untuk itu sekarang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan musik , dan manfaatnya sekarang bahkan lebih bermakna , mengingat bahwa ada begitu banyak bisnis sekolah musik yang menawarkan pendidikan "instan", memenuhi banyak harapan orang tua kepada anak-anak mereka untuk menjadi "jenius " dalam bermain piano dalam waktu beberapa bulan. Kualitas seorang musisi hanya dapat dibuktikan dengan konser "live" atau rekamannya. Ekspresi yang ingin disampaikannya harus cukup dalam sehingga tidak dapat disampaikan dengan kata-kata, ucapan atau tulisan. Hanya melalui sebuah kompetisi atau audisi lah seseorang dapat menyajikan kualitasnya baik kepada masyarakat luas ataupun ke para ahli yang bertindak sebagai juri. Hanya melalui kualitas tinggi para musisi lah musik sastra kita akan tumbuh dan berkembang, dan dalam jangka panjang itu membuat musik sastra diterima , "dipahami" dan akhirnya dicintai. ..............................................................................................................................................
Ananda Sukarlan, pianis & komponis, ketua dewan juri Ananda Sukarlan Award International Piano Competition. @anandasukarlan . http://anandasukarlanaward.wordpress.com
Etiquetas:
Ananda Sukarlan Award,
competition,
Edith Widayani,
Inge Buniardi,
piano music,
Randy Ryan
miércoles, 11 de agosto de 2010
Interview with me at Indonesian Tatler Bambini magazine
This is an article as a result of an interview with me at the lifestyle magazine "Indonesian Tatler Bambini", July 2010
Learning to Learn
Music learning has certain special aspects that parents need to understand, argues renowned Indonesian pianist and composer Ananda Sukarlan. Made M Nadera writes.
As a universal language, music learning is always high on the agenda of any parents. Yet while courses and extra lessons are readily available, many parents would value any worthy advice from world renowned pianist and music educator Ananda Sukarlan.
"As Shakespeare puts it, "Music is the food of love",Ananda volunteers,"And I would like to add to this famous phrase that like food, if it is instant, it is junk. Most familiar problem for students in Indonesia, especially those who have just started taking lessons for any kind of instruments, is their own parent, whocomes to the music teacher and frankly says, "I want you to teach my child, so that in six months or three months, he could play the piano brilliantly!. As the founder of Jakarta Conservatory of Music, every time there is a teacher complaining about this request, I would talk to the parents andtell them that I have been playing the piano for 30 years and there remain thousands of masterpieces that I have yet to master. There are just as many Rachmaninoff's, Sir Michael Tippets's and Beethoven's that I dream one day I would be able to play. How would you expect your child to master an instrument in six months?" he recalls the way he adresses the parent's concerns.
A renowned pianist and composer who have collaborated with a great number of Indonesian artists, Ananda Sukarlan spends few months in a year in Indonesia performing and teaching, amid his hectic schedule traveling for concerts and master classes.
"I am talking about classical music, or "musik sastra" in Indonesian, a new term that I created to avoid using the term "musik klasik" which is a much misrepresented term. For pop music, it can be mastered in, say, between six months to oneyear. Yet classical music isan art and art is definitely infinite. A painter can "finish" one masterpiece simply because that painting needs to be exhibited in a gallery, a composer"completed" his piece as he needs to start practicing for his upcoming concert,a musician needs to stop rehearsing as the date for concert is approaching and his rehearsing days are over. If he is given two more weeks he would be able to play that piece much better in a better interpretation altogether," he elaborates.
Choosing a music teacher, and deciding between choosing a performer or a music pedagogue can also be a dilemma for most parents, an issue that Ananda finds quite essential.
"A good perfomer is not necessarily a good teacher," he lays the rule of thumb,"sometimes a teacher who are not extremely talented in music can bea better teacher, as he has also struggled in understanding and resolvingtechnical problems, something that makes him aware on what method or technique available for children without enormous talents. The truth is, a talent like Mozart is truly rare."
"A good music school does not only provide lessons for the particular instrumentsbut also provides adequate insights and knowledge. There is supposed to be atheory class, history of music, composition analysis and individual sessions toplay the musical instruments. Education that only focuses to the acceptable technique is quite boring, such as the advice like "play this with relaxed wrist and alternating fingers number 3 and 4". In addition to this, they need to be made aware of what makes the piece ultimately fascinating, much in the same way I am still fascinated by the music of Beethoven and Mozart," he parts the essential elements that any good music school shoulddemonstrate.
The influence of pop music in today's internet age, that some people think might have made the classical music a casualty, has also been observed by the talented musician.
"It is not an easy environment these days, knowing that classical music is not originated in Indonesia. Government needs to play the role, providing subsidy at least, on the preservation of traditional music. Although I grew up playing European classical music, I need to emphasize that traditional music should become priority. Pop music is good as entertainment,but other art forms, which are not "pop" is also needed, as we are all human beings with expression, sensitivity and sensibility. The effectiveness of classical music for music therapy has been well proven and documented, for instance in reducing crime and violence in countries that activates classical music to the underprivilegeds such as in Venezuela," he enthusiastically comments on the importance of the music, "That's why me and my colleagues have established the Yayasan Musik Sastra Indonesia, a small contribution to the society, in trying the make them realize that music and arts is something that unites us as human beings, something that would help us balance our moral and intellectual standards. We need also to balance our right and left brain, even if we understand that we are born with different brain ability."
Ananda Sukarlan is very keen to advance the current classical music teaching in Indonesia and presides over some competitions to find the new talents.
"The are many promising young pianists, below the age of 20, and some of them are the winners of Ananda Sukarlan Award (ASA) two years ago. I am very excited to find the new talents that we would announce this July, as I believe thatthere are many participants currently studying abroad who will join the competition . There will also be the junior category in ASA, some of them already participated in my master classes last year. Their talents are tremendous," he concludes on the potentials of Indonesian young and upcoming musicians.
Learning to Learn
Music learning has certain special aspects that parents need to understand, argues renowned Indonesian pianist and composer Ananda Sukarlan. Made M Nadera writes.
As a universal language, music learning is always high on the agenda of any parents. Yet while courses and extra lessons are readily available, many parents would value any worthy advice from world renowned pianist and music educator Ananda Sukarlan.
"As Shakespeare puts it, "Music is the food of love",Ananda volunteers,"And I would like to add to this famous phrase that like food, if it is instant, it is junk. Most familiar problem for students in Indonesia, especially those who have just started taking lessons for any kind of instruments, is their own parent, whocomes to the music teacher and frankly says, "I want you to teach my child, so that in six months or three months, he could play the piano brilliantly!. As the founder of Jakarta Conservatory of Music, every time there is a teacher complaining about this request, I would talk to the parents andtell them that I have been playing the piano for 30 years and there remain thousands of masterpieces that I have yet to master. There are just as many Rachmaninoff's, Sir Michael Tippets's and Beethoven's that I dream one day I would be able to play. How would you expect your child to master an instrument in six months?" he recalls the way he adresses the parent's concerns.
A renowned pianist and composer who have collaborated with a great number of Indonesian artists, Ananda Sukarlan spends few months in a year in Indonesia performing and teaching, amid his hectic schedule traveling for concerts and master classes.
"I am talking about classical music, or "musik sastra" in Indonesian, a new term that I created to avoid using the term "musik klasik" which is a much misrepresented term. For pop music, it can be mastered in, say, between six months to oneyear. Yet classical music isan art and art is definitely infinite. A painter can "finish" one masterpiece simply because that painting needs to be exhibited in a gallery, a composer"completed" his piece as he needs to start practicing for his upcoming concert,a musician needs to stop rehearsing as the date for concert is approaching and his rehearsing days are over. If he is given two more weeks he would be able to play that piece much better in a better interpretation altogether," he elaborates.
Choosing a music teacher, and deciding between choosing a performer or a music pedagogue can also be a dilemma for most parents, an issue that Ananda finds quite essential.
"A good perfomer is not necessarily a good teacher," he lays the rule of thumb,"sometimes a teacher who are not extremely talented in music can bea better teacher, as he has also struggled in understanding and resolvingtechnical problems, something that makes him aware on what method or technique available for children without enormous talents. The truth is, a talent like Mozart is truly rare."
"A good music school does not only provide lessons for the particular instrumentsbut also provides adequate insights and knowledge. There is supposed to be atheory class, history of music, composition analysis and individual sessions toplay the musical instruments. Education that only focuses to the acceptable technique is quite boring, such as the advice like "play this with relaxed wrist and alternating fingers number 3 and 4". In addition to this, they need to be made aware of what makes the piece ultimately fascinating, much in the same way I am still fascinated by the music of Beethoven and Mozart," he parts the essential elements that any good music school shoulddemonstrate.
The influence of pop music in today's internet age, that some people think might have made the classical music a casualty, has also been observed by the talented musician.
"It is not an easy environment these days, knowing that classical music is not originated in Indonesia. Government needs to play the role, providing subsidy at least, on the preservation of traditional music. Although I grew up playing European classical music, I need to emphasize that traditional music should become priority. Pop music is good as entertainment,but other art forms, which are not "pop" is also needed, as we are all human beings with expression, sensitivity and sensibility. The effectiveness of classical music for music therapy has been well proven and documented, for instance in reducing crime and violence in countries that activates classical music to the underprivilegeds such as in Venezuela," he enthusiastically comments on the importance of the music, "That's why me and my colleagues have established the Yayasan Musik Sastra Indonesia, a small contribution to the society, in trying the make them realize that music and arts is something that unites us as human beings, something that would help us balance our moral and intellectual standards. We need also to balance our right and left brain, even if we understand that we are born with different brain ability."
Ananda Sukarlan is very keen to advance the current classical music teaching in Indonesia and presides over some competitions to find the new talents.
"The are many promising young pianists, below the age of 20, and some of them are the winners of Ananda Sukarlan Award (ASA) two years ago. I am very excited to find the new talents that we would announce this July, as I believe thatthere are many participants currently studying abroad who will join the competition . There will also be the junior category in ASA, some of them already participated in my master classes last year. Their talents are tremendous," he concludes on the potentials of Indonesian young and upcoming musicians.
miércoles, 14 de julio de 2010
Looking forward, and Foreword to Ananda Sukarlan Award 2010
This time my entry is in Indonesian, which is the foreword for ASA 2010.
"Music is the food of love" (William Shakespeare).
"Like food, if it's instant, it is junk" (Ananda Sukarlan)
Ananda Sukarlan Award 2010 kembali kami selenggarakan di tengah keadaan yang serba instan yang semakin marak. Ketenaran dan karir yang diraih langsung dari atas adalah ciri khas "seni" pertunjukan saat ini di Indonesia. Sayang sekali banyak yang lupa, jika anda mendarat langsung di puncak gunung, jalan satu-satunya yang ada hanyalah kebawah. Saya tidak pernah percaya ramalan baik Joyoboyo maupun Nostradamus, tapi saya hanya selalu percaya pada satu ramalan saja, yaitu dari seniman Andy Warhol di tahun 70-an: "In the future, everybody will be famous for 15 minutes". Dan hal itu sedang dalam proses realisasinya, baik berkat siaran-siaran TV dari Amerika Serikat yang menjanjikan ke"seniman"an dalam beberapa bulan sampai penawaran predikat "terbaik", "terbanyak" dan banyak ter- lainnya yang harganya lebih murah daripada sebuah mobil termurah pun. Masih terus terngiang-ngiang di telinga kita persembahan Glenn Gould memainkan Goldberg Variations dari tahun 70-an, atau konser terakhir Leonard Bernstein yang legendaris mengekspresikan Four Sea Interludes dari Benjamin Britten di tahun 1990. Tapi saat ini sebuah kejadian atau kreasi seni penting, betapapun tinggi nilai artistiknya, betapapun besar karya seninya, hanya akan terkenang selama sebuah status facebook belum diganti. Tidak ada lagi misteri dan ambiguitas lagi di dalam sebuah karya seni, karena semua misteri kini bisa dipecahkan lewat google.
Saya merasa sangat terharu bahwa ada sekitar 60 (dan pasti lebih lagi diluar ini) peserta ASA 2010 yang masih percaya akan jalan yang sulit dan berliku-liku dan "kuno" dalam dunia seni, khususnya musik sastra. Jalan tradisional inilah yang saya yakin akan menempa mereka menjadi seniman sejati yang mengerti liku-liku dunia ini, yang mau belajar dari kesalahan, yang mau menerima kritik dan kekurangan untuk memperbaikinya, yang mau jatuh berkali-kali tapi bangun berkali-kali lagi. Tidak ada kata "kalah" dalam dunia seni, tidak ada kata "salah" dalam berkespresi. Yang ada hanyalah introspeksi dan kerja keras yang terus menerus untuk mencapai puncak yang tidak akan bisa diraih oleh manusia manapun di planet ini, yang bernama "kesempurnaan".
Saya ingin mengucapkan selamat kepada para peserta ASA 2010. Dan juga rekan-rekan juri yang terdiri dari musikus-musikus yang sangat saya hormati dan kagumi yang punya kepercayaan yang sama dengan saya, terima kasih sedalam-dalamnya saya ucapkan. Tuhan memberkati anda dalam berkompetisi dengan anda sendiri untuk menjadi anda yang lebih baik di masa depan.
Pianistically yours,
Ananda Sukarlan
www.musik-sastra.com
"Music is the food of love" (William Shakespeare).
"Like food, if it's instant, it is junk" (Ananda Sukarlan)
Ananda Sukarlan Award 2010 kembali kami selenggarakan di tengah keadaan yang serba instan yang semakin marak. Ketenaran dan karir yang diraih langsung dari atas adalah ciri khas "seni" pertunjukan saat ini di Indonesia. Sayang sekali banyak yang lupa, jika anda mendarat langsung di puncak gunung, jalan satu-satunya yang ada hanyalah kebawah. Saya tidak pernah percaya ramalan baik Joyoboyo maupun Nostradamus, tapi saya hanya selalu percaya pada satu ramalan saja, yaitu dari seniman Andy Warhol di tahun 70-an: "In the future, everybody will be famous for 15 minutes". Dan hal itu sedang dalam proses realisasinya, baik berkat siaran-siaran TV dari Amerika Serikat yang menjanjikan ke"seniman"an dalam beberapa bulan sampai penawaran predikat "terbaik", "terbanyak" dan banyak ter- lainnya yang harganya lebih murah daripada sebuah mobil termurah pun. Masih terus terngiang-ngiang di telinga kita persembahan Glenn Gould memainkan Goldberg Variations dari tahun 70-an, atau konser terakhir Leonard Bernstein yang legendaris mengekspresikan Four Sea Interludes dari Benjamin Britten di tahun 1990. Tapi saat ini sebuah kejadian atau kreasi seni penting, betapapun tinggi nilai artistiknya, betapapun besar karya seninya, hanya akan terkenang selama sebuah status facebook belum diganti. Tidak ada lagi misteri dan ambiguitas lagi di dalam sebuah karya seni, karena semua misteri kini bisa dipecahkan lewat google.
Saya merasa sangat terharu bahwa ada sekitar 60 (dan pasti lebih lagi diluar ini) peserta ASA 2010 yang masih percaya akan jalan yang sulit dan berliku-liku dan "kuno" dalam dunia seni, khususnya musik sastra. Jalan tradisional inilah yang saya yakin akan menempa mereka menjadi seniman sejati yang mengerti liku-liku dunia ini, yang mau belajar dari kesalahan, yang mau menerima kritik dan kekurangan untuk memperbaikinya, yang mau jatuh berkali-kali tapi bangun berkali-kali lagi. Tidak ada kata "kalah" dalam dunia seni, tidak ada kata "salah" dalam berkespresi. Yang ada hanyalah introspeksi dan kerja keras yang terus menerus untuk mencapai puncak yang tidak akan bisa diraih oleh manusia manapun di planet ini, yang bernama "kesempurnaan".
Saya ingin mengucapkan selamat kepada para peserta ASA 2010. Dan juga rekan-rekan juri yang terdiri dari musikus-musikus yang sangat saya hormati dan kagumi yang punya kepercayaan yang sama dengan saya, terima kasih sedalam-dalamnya saya ucapkan. Tuhan memberkati anda dalam berkompetisi dengan anda sendiri untuk menjadi anda yang lebih baik di masa depan.
Pianistically yours,
Ananda Sukarlan
www.musik-sastra.com
Etiquetas:
Ananda Sukarlan Award,
bach,
Benjamin Britten,
Glenn Gould,
Leonard Bernstein
miércoles, 30 de julio de 2008
Brill ? Young ? Local ? Thanx, but no thanx !
(a reflection on the Ananda Sukarlan Award 2008)
Congrats to those brilliant young Indonesian pianists who won prizes at the Ananda Sukarlan Award 2008 : Inge Buniardi (1st), Edith Widayani (2nd) and the three Thirds all tied : Handy Suroyo, Randy Ryan and Stephanie Onggowinoto. As a curious note, both Randy and Stephanie are both under 14 years of age. Not that we, jury members, put special attention to the early teens, but still it is amazing how they could compete with other pianists under 25.
I must say, I don't like music competitions ("oops ! Shut up, Andy !!" - "Do i contradict myself ? Very well, I contradict myself. I am large, I contain multitudes" (Walt Whitman)) . But this is the system from which we built all our musical careers, and since I couldn't think of a better way, so well, here we are. There are at least 2 participants which I personally felt they should enter the final round (I think each of the jury members had one or two of their favorite(s) who didn't manage to enter the finals), and I must admit the jury had difficulty in determining which 10 "best" pianists should enter the final round. We had 4 highly reputable jury members, and especially I am glad to greet a new friend, Henoch Kristianto as one of the jury. He is a wonder boy, graduated from Missouri who just recorded Chopin's 24 etudes. Fantastic.
But let's talk about another thing, which is my favorite theme to talk about : public acceptance to our own local music (classical) talents. There was a good audience (both quality- and quantitywise) during the final round, but I failed in one thing in this competition : to get reporters and celebrity friends to attend the final round on the 26th. Well, I shouldn't complain. Many of them have flocked at my Birthday concert at Alila Hotel held the week before the competition, and they have contributed a lot (both in publicizing and in financial aids) for the Ananda Sukarlan Award. But I would like them to hear the young local talents. Why ? Simply, coz they are really brilliant. They are the future of our country (if we have a future, with all those corruptions around). Guys, you should check the winners name I told you above. Remember them, for just a few years ahead. What else do they have to prove, besides their virtuosity and artistry ?
Can I tell you one thing, guys ? Now, most of the international piano competitions throughout Europe are won by Asian pianists. And I see that the Indonesians are catching up. The artistic world is like the stockmarket, guys. You should bet on one when it's still not high up there yet ! Are you going to let go of this opportunity ?
Congrats to those brilliant young Indonesian pianists who won prizes at the Ananda Sukarlan Award 2008 : Inge Buniardi (1st), Edith Widayani (2nd) and the three Thirds all tied : Handy Suroyo, Randy Ryan and Stephanie Onggowinoto. As a curious note, both Randy and Stephanie are both under 14 years of age. Not that we, jury members, put special attention to the early teens, but still it is amazing how they could compete with other pianists under 25.
I must say, I don't like music competitions ("oops ! Shut up, Andy !!" - "Do i contradict myself ? Very well, I contradict myself. I am large, I contain multitudes" (Walt Whitman)) . But this is the system from which we built all our musical careers, and since I couldn't think of a better way, so well, here we are. There are at least 2 participants which I personally felt they should enter the final round (I think each of the jury members had one or two of their favorite(s) who didn't manage to enter the finals), and I must admit the jury had difficulty in determining which 10 "best" pianists should enter the final round. We had 4 highly reputable jury members, and especially I am glad to greet a new friend, Henoch Kristianto as one of the jury. He is a wonder boy, graduated from Missouri who just recorded Chopin's 24 etudes. Fantastic.
But let's talk about another thing, which is my favorite theme to talk about : public acceptance to our own local music (classical) talents. There was a good audience (both quality- and quantitywise) during the final round, but I failed in one thing in this competition : to get reporters and celebrity friends to attend the final round on the 26th. Well, I shouldn't complain. Many of them have flocked at my Birthday concert at Alila Hotel held the week before the competition, and they have contributed a lot (both in publicizing and in financial aids) for the Ananda Sukarlan Award. But I would like them to hear the young local talents. Why ? Simply, coz they are really brilliant. They are the future of our country (if we have a future, with all those corruptions around). Guys, you should check the winners name I told you above. Remember them, for just a few years ahead. What else do they have to prove, besides their virtuosity and artistry ?
Can I tell you one thing, guys ? Now, most of the international piano competitions throughout Europe are won by Asian pianists. And I see that the Indonesians are catching up. The artistic world is like the stockmarket, guys. You should bet on one when it's still not high up there yet ! Are you going to let go of this opportunity ?
Suscribirse a:
Entradas (Atom)