Mostrando entradas con la etiqueta competition. Mostrar todas las entradas
Mostrando entradas con la etiqueta competition. Mostrar todas las entradas
lunes, 21 de marzo de 2016
Easy music, chamber music, nice music
Writing easy music is not easy. Well, we composers know that, so there are 2 types of us: the ones who avoid writing music which is easy to play, and the others who then delve into it and start trying to write it. I used to belong in the first club, but since I wrote for my daughter Alicia, I joined the second club. But there is something more difficult than writing easy music, and that is writing easy and GOOD music to be performed. Not that the music in Alicia's Piano Books are not meant to be performed, no no ... in fact it's just a collection of any kind of short pieces. .............................................................................................................................................
Believe me, everytime I wrote a new Rapsodia Nusantara, I always intended that this one would not be a difficult one, so it could be played by young(er) pianists. And I sort of achieved it, like in no. 6 and recently no. 16 which became quite popular with Indonesian pianists. I just finished a new one too, which become no. 18, a set of variations and passacaglia which I am not telling from which song at the moment ;) and it's quite easy(-ier) than the rest. And lighter too, with some humorous quotations of existing music. .............................................................................................................................................
Now that my friends in 5 cities are organizing a piano competition for young people, I regularly talk to them too about this. Especially Eveline Philips in Makassar who told me that in Alicia's Piano Books very easy piano pieces are not enough. I mean very, like, for real beginners, just a few months touching the keys. Anyway, it's been nice chatting with her while writing several very easy and short pieces. I don't always succeed, as I said above it's not easy writing easy pieces, but I got some for Alicia's 6th Piano Book. And yeah, it's a wonderful initiative those friends of mine have about this Piano Nusantara competition. The idea is each of them in their respective cities organize a competition, and then the winner of each city would be eligible to do the Grand Finale in Jakarta. And it's a very friendly one, unlike the Ananda Sukarlan Award, which is tough. The idea is to show the (very) young pianists that competitions are not meant to "kill" them. Everyone is a winner, they will receive comments from the judges, and they can prepare any kind of music they want. The 2 things they have to comply is that 1. They have to prepare 2 pieces, one by an Indonesian composer and the other by a classical international one, you know, Bach, Schumann and those guys. 2. The duration, which as usual there is a limit. You can check everything out at pianonusantara.wordpress.com . .............................................................................................................................................
Now that the Foundation for Autistic Children "EMPATI" commissioned me for a new piece based on a famous children song "Kupu-kupu" (by the late very popular children songwriter Ibu Sud), I gotta succeed in making a quite elaborate (I mean longer than the pieces in Alicia's Piano Books) showpiece but playable by intermediate pianists. And yeah, in the midst of orchestrating my opera Tumirah, I finished a Theme and 5 variations on it. I finished them just now, in a hotel in near the beautiful town of Arnuero. I am serving as the president of the jury for their International Chamber Music Competition this weekend. One thing which is nice about writing "not-so-difficult" pieces is that one doesn't need a piano to try everything, unlike writing the Rapsodias where I constantly had to go to the piano and check whether something is (not) playable by our poor overexploited fingers. And there is a feeling of accomplishment afterwards, different than finishing my other "difficult" pieces, therefore I write these lines :). .............................................................................................................................................
And talking about the Chamber Music Competition, I just acquired immense pleasure listening to all participants. I am double happy that my Indonesian musician colleagues "Duo Schoko" could enter the final round. Nothing to do with me being the president of the jury, mind you! Ah, and also it was such fun playing with my colleagues during the opening concert, where we premiered my new Trio for flute, viola & piano. Just search it on youtube if you wanna hear it, it's in 3 videos but you can get them all if you search with the keyword "ananda sukarlan trio". .............................................................................................................................................
Millions of young pianists aspire to become soloists, but most forget how important it is playing together, either with instruments or with vocalists. The joy and fun is inexplicable, because we share the music together. Chamber music should be introduced at a very young age .... and now I am thinking to write easy pieces for chamber music!
Etiquetas:
alicia pirena,
Arnuero,
autism,
competition,
Ibu Sud,
Rapsodia Nusantara
domingo, 2 de marzo de 2014
My article "Piano Competition : Quo Vadis?" at KOMPAS March 2 (in Indonesian)
Yesterday, one of Indonesia's most popular newspaper KOMPAS published my article, and I'm posting it here. It is in Indonesian, so if you wanna read it in your own language, please use google translate. Not that it's accurate, but it gives you an idea of what it is :) . ..............................................................................................................................................
Kompetisi Piano, Quo Vadis ? ..............................................................................................................................................
Mulai banyak kompetisi piano yang diadakan di tanah air, menyusul iklim musik sastra (istilah yg saya rasa lebih tepat daripada "musik klasik") yang sangat hangat dan aktif saat ini. Tak dapat dihindari pergerakannya ke arah positif dan negatif. Pendidikan musik pada umumnya di usia yang sangat muda (dibawah 10 tahun) dalam artian membaca not balok dan memainkan instrumen (bukan hanya piano) memang bukan bertujuan utama untuk membuat anak-anak itu menjadi musikus di kemudian harinya, tapi lebih ke pengaktifan otak yang lebih intuitif dan kreatif, sehingga mereka akan berkembang sebagai individu yang lebih peka, bukan hanya empatis, tapi juga dalam melaksanakan kualitas pekerjaan mereka yang sering tidak berhubungan sama sekali dengan seni. Dari pendidikan tersebut, sering secara tidak sengaja ditemukan bakat-bakat musik yang kadang luar biasa yang diharapkan dapat menjadi musikus handal dikemudian harinya, di mana modal bakat saja tentu tidak cukup untuk itu. ..............................................................................................................................................
Kompetisi piano adalah salah satu wadah dimana mereka dapat menantang kualitas dirinya sendiri. Dua kata terakhir itu yang perlu diingat : dirinya sendiri. Pada dasarnya kompetisi seni apapun tidak dapat disamakan dengan kompetisi olahraga, dimana sang kompetitor memiliki "lawan" atau "rival" karena bagaimanapun subyektivitas para juri ikut memegang peran. Yang bermain musik Tschaikovsky dengan tempo lebih cepat belum tentu menang, tidak seperti di kolam renang. Yang penekanan tuts pianonya paling kuat juga belum tentu menang karena ini bukan olahraga gulat. Bahkan yang meleset memencet tuts piano pun belum tentu terkurangi nilainya, sedangkan di olahraga panah, jika anak panah tidak tepat sasaran nilainya akan berkurang. Oleh karena itu, di ajang seperti ini sang peserta diharapkan berkompetisi dengan kualitasnya sendiri, dengan perbedaan antara apa yang diharapkannya sebelum naik panggung dan kenyataan yang terjadi di panggung , seberapa besar aspirasi artistiknya bisa direalisasikan di depan penonton dan juri. ..............................................................................................................................................
Jadi, apakah tidak ada standar atau kriteria dalam penilaian juri? Tentu saja ada, hanya saja semua kriteria tersebut berhenti pada tahap teknik permainan serta pengetahuan akademik. Dan kriteria-kriteria tersebut sudah 70-80% terpenuhi oleh teknik permainan yang makin membaik oleh para pianis muda Indonesia saat ini. Setelah semua kriteria ini terpenuhi, saatnya "selera" memegang peranan. Masalahnya mulai timbul jika kompetisi dijadikan ajang "rebutan murid" oleh para guru musik yang nota bene menjadi juri di kompetisi tersebut. Dan "selera" ini bisa saja diinterpretasi dengan subyektivitas yang memang tidak bisa dihindari, bukan hanya dari kualitas permainan, tapi menjalar jadinya ke "yang ini murid saya, jadi harus saya kasih nilai lebih tinggi daripada yang lain". Bagaimanapun, nama guru akan terangkat jika muridnya memenangkan sebuah kompetisi, apalagi yang bergengsi. Masalah lain, mungkin yang paling penting tapi sering dilupakan adalah jika juri adalah seorang pendidik tapi tidak merangkap seorang "performer" (dalam artian sebenarnya, bukan hanya bermain di depan murid-muridnya atau lingkungan sekolahnya), karena ia akan melupakan satu hal yang sederhana tapi penting : penonton datang ke konser untuk "disentuh hati"nya, bukan untuk mengontrol dengan stopwatch seberapa cepat sang pianis memainkan Chopin Etude serta menghitung jumlah tuts piano yang salah pencet. Kecepatan tempo, tingkat akurasi permainan yang tinggi dll. TIDAK menjamin tingginya nilai artistik sebuah permainan piano, seperti yang saya selalu tekankan (dan sulit diterjemahkan ke bahasa Indonesia) : Music serves to express, not to impress. ..............................................................................................................................................
Indonesia sebagai salah satu pengguna terbesar media sosial di dunia , musik sastra-nya juga terwakili dengan begitu banyak pengikut Facebook dan twitter. Banyak sumber informasi yang di tulis oleh para amatir, dan beberapa dari mereka memberikan informasi (bukan hanya opini) yang kurang tepat. Dalam kasus ini hanya waktu lah yang dapat menyaring kualitas yang baik dari forum dan media tersebut yang saat ini tumbuh lebih dalam kuantitas daripada kualitas. ..............................................................................................................................................
Penulis akui bahwa kompetisi bukanlah cara terbaik untuk membangun atmosfir kesenian , tetapi sampai sekarang , inilah satu-satunya cara untuk seorang musikus muda memulai karir di musik sastra , di mana kompetisi / audisi yang disaksikan publik umum menjadi sebuah platform di mana bakat seseorang ditemukan dan diakui . Jika ada metode yang lebih baik daripada audisi / kompetisi yang "fair", metode itu harus bisa menjawab dua pertanyaan ini :
1. Bagaimana seorang produser / penyelenggara acara / komponis mendapatkan dan menemukan musikus yang berkualitas, dan sebaliknya :
2. Bagaimana musikus yang berkualitas tapi tidak memiliki koneksi, uang yang cukup dan fasilitas lain mendapatkan kesempatan, atau "exposure" untuk bisa menunjukkan karyanya?
Asumsi bahwa kompetisi / audisi itu seperti lagunya ABBA : "The winner takes it all, the loser has to fall" itu sama sekali tidak benar. Justru berdasarkan pengalaman saya mengadakan kompetisi piano internasional Ananda Sukarlan Award sejak 2008, terdapat fakta yang malah menguntungkan yang "kalah" seperti ini :
..............................................................................................................................................
1. Th 2008, Inge Buniardi memenangkan juara I, dan Edith Widayani pemenang II. Edisi berikutnya (2010), Edith Widayani menjadi pemenang pertama. Kini dua-duanya sedang melanjutkan kuliah di University of Kansas (Inge dalam program S3), dan Eastman School of Music (Edith program S2), dua perguruan tinggi yang "top" di AS, dan telah memulai karir sebagai pianis ke mancanegara.
2. Th. 2008, Randy Ryan memenangkan juara III, saat itu usianya baru 15 th. Ia ikut kompetisi lagi th. 2012, dan ia memenangkan juara I. Kini ia kuliah S1 di Juilliard School of Music, New York. Dua fakta ini tidak di"sengaja" terjadi, karena dewan juri setiap edisi berbeda, jadi mereka tidak mengenal siapa yang telah berpartisipasi di edisi sebelumnya. ..............................................................................................................................................
Ketiga pianis yg saya sebut ini kini mendapatkan beasiswa dari universitasnya untuk kuliahnya. Kesimpulan yang dapat diambil adalah, sukses sering tidak tercapai langsung dalam satu kompetisi, "kegagalan" bukan berarti kiamatnya dunia tetapi memperkaya pengalaman. Itupun saya alami di masa-masa muda saya. ..............................................................................................................................................
Dunia seni yang sangat menjunjung tinggi kualitas produknya tidak dapat lagi berkembang melalui nepotisme atau persahabatan semata. Betapapun cintanya anda terhadap istri atau anak anda (dan seringkali kasusnya merembet ke keponakan, sepupu bahkan tetangga), belum tentu ia dapat menjamin kualitas pertunjukan yang prima, betapapun besarnya usahanya dan niat baiknya selain untuk memberikan yang terbaik, juga untuk membahagiakan anda. Mengambil bagian dalam kompetisi dan bagaimana mempersiapkan diri untuk itu sekarang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan musik , dan manfaatnya sekarang bahkan lebih bermakna , mengingat bahwa ada begitu banyak bisnis sekolah musik yang menawarkan pendidikan "instan", memenuhi banyak harapan orang tua kepada anak-anak mereka untuk menjadi "jenius " dalam bermain piano dalam waktu beberapa bulan. Kualitas seorang musisi hanya dapat dibuktikan dengan konser "live" atau rekamannya. Ekspresi yang ingin disampaikannya harus cukup dalam sehingga tidak dapat disampaikan dengan kata-kata, ucapan atau tulisan. Hanya melalui sebuah kompetisi atau audisi lah seseorang dapat menyajikan kualitasnya baik kepada masyarakat luas ataupun ke para ahli yang bertindak sebagai juri. Hanya melalui kualitas tinggi para musisi lah musik sastra kita akan tumbuh dan berkembang, dan dalam jangka panjang itu membuat musik sastra diterima , "dipahami" dan akhirnya dicintai. ..............................................................................................................................................
Ananda Sukarlan, pianis & komponis, ketua dewan juri Ananda Sukarlan Award International Piano Competition. @anandasukarlan . http://anandasukarlanaward.wordpress.com
Etiquetas:
Ananda Sukarlan Award,
competition,
Edith Widayani,
Inge Buniardi,
piano music,
Randy Ryan
Suscribirse a:
Entradas (Atom)