Mostrando entradas con la etiqueta Benjamin Britten. Mostrar todas las entradas
Mostrando entradas con la etiqueta Benjamin Britten. Mostrar todas las entradas
viernes, 18 de mayo de 2012
A tribute to Dietrich Fischer-Dieskau
Yesterday I lost, we lost, one of the greatest inspirational figure in classical music. The great baritone Dietrich Fischer-Dieskau died at 86 (he was born in 1925). He wasn't a great operatic figure, since his forte lies in the art of German lieder, but it was exactly that facet which inspired me a lot. His recording with Gerard Moore of Schubert's songcycle Winterreise must have been the best recording of that masterpiece, and he had recorded it with other pianists (including Alfred Brendel) several times. Ah, those good old times when we could make countless recordings and could be appreciated by music lovers. Now it's all the downloading culture in the internet. ---------
The baritone voice used to be considered as "the tenor voice who couldn't hit high notes", and then Fischer-Dieskau came to rescue its reputation. I am not going to post his biography, since one can easily find it now by googling him. I just wanna write about his impact on me, mostly when I was still studying in my early 20s. The first recording of his I heard was Gustav Mahler's Lieder eine Fahrende Gesellen, with Leonard Bernstein, taking the three movements usually sung by a mezzo-soprano and making them very much his own. But after several other recordings of his I listened to, two of them made a special impact on me. The first one was Britten's War Requiem, whose baritone part was written inspired by and especially for him. It became one of the landmark pieces of my life, not only musically but also an eye-opener to the real meaning of war, and therefore life. Oh and of course Britten wrote his Songs and Proverbs of William Blake for Fischer-Dieskau, a beautiful songcycle for baritone and piano which I still dream of performing one day. --------------
The other one was Sir Michael Tippett's The Vision of St. Augustine, a work for baritone solo, choir & orchestra.
Sir Michael in that work attempts the "reach to exceed humanity's grasp" with the baritone solo, the metaphor for the present that follows Augustine's account of the vision combined with the chorus, the symbol of the past and future with its commentary on Augustine's narrative. Out of these disparate and conflictive forces, transcendence erupts. Tippett shows us that with effort, humanity has the potential to reach transcendence through music, and Fischer-Dieskau realized his aspirations.
Sir Michael avoided any reference to the tradition of the Music of the Spheres in the Vision of St. Augustine so as not espouse transcendence as attainable through manipulation of patterns and numerology. Instead he turned to the music of the angels, those messengers of God whose language discloses the music of transcendence, and consequently, the connection to the Divinity. Tippett's principal vocal technique is glossolalia, those vocalizations or excited repetitions of vowels to depict the character of angelic singing. Glossolalia, a term from the Greek, are the wordless sounds and shouts accompanying ecstasy. Glossolalia is most prevalent in the vision of eternity, particularly in extension of the final syllables of "alleluia." Unison singing beginning with the lowest male voices extending through the ranges of the highest female voices creating vast arches, using short note values and antiphonal singing complete the angelic vocalizations, and require virtuoso singing from the chorus.
It was this piece hanging in the back of my mind when I wrote my own (much lesser in scale and artistic quality, unfortunately) second cantata LIBERTAS which has the same (again, less quantity of instruments) formation. You can download the whole cantata if you have an iPad, iPod touch or even in your iPhone by just searching my name on appStore. By the way, in that app called "Ananda Sukarlan - Premium" you can also listen to many of my songs for baritone, sung by Joseph Kristanto. Some of those songs owe their existence to Fischer-Dieskau's inspirational voice, I must say.
And now heaven is so lucky to have Dietrich Fischer-Dieskau. He is singing now for the angels. Requiescat in Pace, Maestro. You deserve to leave this world by saying that you left it better than when you found it. At least a humble Indonesian boy who dreamt to be a musician & composer could realize it, thanks to you. And you've made him love music more, and made it a big part of his life.
sábado, 4 de junio de 2011
More complete interview at Kompas Kita, May 31 (in Indonesian)
I am deeply grateful to Kompas for not editing and/or cutting the interview done by their readers to me, published last Tuesday May 31st (which is also the birthday of my favorite poet, my hero & idol, Walt Whitman). However, due to the limits of space (I mean for the printed newspaper, not the final frontier!) KOMPAS can only publish 12 questions. They sent me 16 chosen questions which I have answered, out of the more than 50 questions that were sent by the reader throughout the country. I post here my answers of those 16 questions, hence there are 4 new topic here that you haven't read at the published article. It is, naturally, in Indonesian, but in case you don't understand it you can use Google translator who gets better every time.
1. Om Ananda, saya kini berusia 13 tahun. Sejak usia 5 tahun ikut kursus piano klasik sampai hari ini. Dibandingkan prestasi Om saat usia 13 tahun, saya bukan apa-apa. Apa yang perlu saya lakukan lagi.
Kinsky Gisela Mentari, Kampung Rambutan - Jakarta Timur,
Jawaban: Bukan apa-apa? Lho, waktu saya 13 th malah abis di dropout dari sekolah musik di Jakarta. Katanya, saya nggak berbakat! Jadi prestasimu udah lebih dari saya, ya kan? Tapi saya jalan terus sampai sekarang. Dengarkan kata hati dan ikutilah. Kalau memang cintanya di musik, teruslah. Mempelajari & berkarya seni itu nggak pernah selesai, karena itu perjalanan menuju kesempurnaan. Dan kita, manusia, tidak akan pernah bisa mencapainya. Keindahan berkarya seni ada di prosesnya, bukan tujuannya.
2. 1.Mohon saran dari Mas Ananda, bagaimana cara meningkatkan minat pelajar dan mahasiswa terhadap piano dan orkes? karena menurut saya, karya piano dan orkes mulai tenggelam di kalangan muda Indonesia .
Robert, Tangerang, Banten,
Jawaban: Kenapa film Hollywood sangat diminati? Karena gedung bioskop kualitas & kuantitasnya sudah memadai. Nah, gedung konser yang berakustik bagus, dengan sistem manajemen yg juga bagus belum ada satu pun. Gedung sih banyak, tapi tanpa konsep akustik yang benar. Jika kita belum bisa menganggap gedung (dan akustiknya) sebagai sebuah instrumen musik (seperti biola, piano), kita tidak bisa memilikinya. Di satu konser piano tunggal itu ada 1 musikus (pianis) dan 2 instrumen: piano dan akustik gedung: itu mesti selalu diingat. Bukan hanya piano. Dan tiap instrumen itu ada pembuatnya, yang merupakan ahlinya. Jadi akustik gedung bukan di desain oleh arsitek atau musikus, tapi oleh ... ahli akustik!
Mendengarkan satu konser di gedung yang akustiknya memadai (dan pemain yang bagus, tentu saja) itu adalah satu pengalaman yang luar biasa, pasti akan sangat menarik minat masyarakat untuk musik sastra. Sangat lain dengan mendengarkan rekaman (apalagi kalau bajakan!). Itu sebabnya orang Indonesia berbondong-bondong ke Singapur & Malaysia nonton konser. Gedung seperti Philharmonie Berlin atau Concertgebouw Amsterdam menjadi ikon kota itu, dan akan menarik orang untuk menjadi tempat "hang-out" yang "hip & cool", selain utk mendengarkan musik juga ketemuan dan ngobrolin musik (dan lain hal), dgn aktivitas lain seperti diskusi dan masterclasses ... dan tentu saja dengan "coffee shop" di berandanya yang enak dan nyaman dong! Banyak hal lain untuk menarik minat ke musik sastra, terutama dalam pendidikan & pengenalan yg kami lakukan lewat Yayasan Musik Sastra Indonesia. Cek saja website kami di www.musik-sastra.com
3. Apa saran Anda untuk anak SMU yang berniat memilih jurusan non-eksakta? Apa pendapat Anda mengenai steretotipe bahwa anak IPA lebih sukses dari yang non-IPA?
Fransiska Ully Artha Situmorang, Duren Tiga , Jakarta Selatan
Jawaban: Dukung 100% dong! Walaupun dulu di SMA (Kanisius di Jakarta) saya anak IPA, saya kayaknya "nyasar" deh. Apalagi seni itu sama sekali tidak eksak, malah seni itu justru semakin tinggi ambiguitasnya biasanya semakin artistik, kan? Lihat saja lukisannya Da Vinci atau naskahnya Shakespeare yang penuh dengan rahasia dan ambiguitas. Ah, sukses? Kalau sukses jadi ilmuwan atau pengusaha seperti keinginan orangtuanya, tapi hatinya ada di dunia seni misalnya, apa itu namanya sukses?
4. 1.saya cukup kagum dengan prestasi yang anda miliki, saya ingin menanyakan apa langkah terbesar yang anda lakukan sehingga anda menjadi pianis terkenal?
2.mengapa anda lebih memilih untuk tinggal di spanyol daripada di indonesia
mei rosseliny gultom, medan
Jawaban: 1. Terbang 10.000 km dari rumah setelah lulus SMA untuk meraih mimpi. Kurang besar gimana langkahnya coba? Tapi setelah itu karir sbg pianis ditentukan dengan memenangkan kompetisi2 internasional sewaktu saya muda. Sayangnya itu masih satu-satunya jalan memulai karir sampai saat ini. 2. Soalnya di Indonesia masih belum bisa berkarir & mencari nafkah sebagai pianis dan komponis. Dengan segala kesempatan yang ada di Eropah setelah kemenangan saya di berbagai kompetisi, siapa sih yang mau meninggalkan itu semua? Tapi saat ini tokh saya bisa lebih banyak berbuat untuk negara di luar negeri daripada di dalam negeri, kan? Oh ya, saya juga terus pegang paspor Indonesia, walaupun saya berkewarganegaraan dobel: Republik Indonesia & Kerajaan Galau hehe..
5. Pertanyaan : Apakah faktor keturunan (Bakat) mempengaruhi kemahiran seorang musikus dalam berkarya? Bagaimana bagi mereka yang tidak terlahir dalam keluarga seniman? Bisakah mereka menghasilkan karya setara dengan yang berbakat ?
Stella Chrisfanny, Cilincing Jakarta Utara,
Jawaban: Ah, keluarga saya juga bukan seniman kok. Saya anak bungsu dari 7, ortu dan kakak2 saya tidak ada yg jadi seniman. Bakat tentu saja membantu, tapi tidak mutlak. Semua itu 1% bakat dan 99% kerja keras.
6. Pertanyaan:
Ananda sudah konser di berbagai kota di Indonesia . Berkaitan dengan apresiasi audiens terhadap karya-karya yang Ananda tampilkan, apakah Ananda bisa menangkap karakter audiens dari masing-masing kota terhadap selera lagu/komposisi yang Ananda mainkan? Bagaimana Ananda menyesuaikan dengan karakter audiens yang berbeda tersebut?
Anton Asmonodento, Yogyakarta
Jawaban: Kalau dari satu negara mungkin tidak begitu kentara, tapi kalau beda negara iya. Yang terjadi di audiens adalah psikologi massa, dimana audience menjadi satu karakter, dan itulah cara saya berkomunikasi dengan mereka: menganggap mereka sebagai satu "orang" saja, satu orang yang benar2 saya ingin sampaikan apa yang ingin saya ekspresikan. Saya tidak perlu menyesuaikan di tiap negara, karena musik sastra, seperti seni lainnya, berbicara sama kepada siapapun. Seorang performer harus menjadi "bunglon" bukan terhadap audiensnya, tapi untuk jenis musik yg berbeda-beda cara interpretasinya. Banyak ulasan tentang ini saya tulis di blog saya http://andystarblogger.blogspot.com
7. Mas Andy,
Ada niat bikin karya tentang seorang menteri yang suka ngomong (ngetwit)
sembarangan ga?
Anita, Bandung , tabbyche@gmail.com
Jawaban: Sembarangan atau sembiringan? Ah, ogah beneeur. Mendingan untuk menteri seperti alm. Fuad Hassan yg telah banyak jasanya ke dunia pendidikan dan musik sastra (termasuk mengusahakan beasiswa waktu saya mau melanjutkan ke Belanda). Karya saya utk piano solo, Etude no. 3 "This Boy's Had a Dream" saya dedikasikan ke beliau. Tentu anda tahu, siapa "boy" yang bermimpi itu. Btw, setiap karya saya yang untuk seseorang itu pasti ada "pesan rahasia" terhadapnya, yang biasanya dekat atau selalu ada di hati saya. Seumur hidup saya nggak akan pernah lupa jasa pak Fuad.
8. . Dear Ananda
1. Sebagai Pianis senior yang telah lama bekecimpung dalam dunia musik apakah Anda melihat dan merasakan adanya kesenjangan terhadap perkembangan seni musik sebagai Ilmu Pengetahuan di negeri kita ini? Terimakasih.
Christanto Hadijaya, Yogyakarta
Jawaban: Sangat! Padahal harta karun musik (terutama etnik) Indonesia adalah sumber yang tak habis-habisnya di penciptaan karya-karya baru di Eropah. Selain itu pemerintah tidak mengerti mempromosikannya ke dunia internasional, yang dapat menjadi aset negara untuk memperbaiki image bangsa serta memasukkan devisa. Contoh: kita memiliki bakat-bakat yang luar biasa. Ini saya bukan "ngegombal", saya sudah lihat sendiri, paling tidak ada 2 anak kecil : Sally Yapto (9 th) di Surabaya dan Ralf Vivaldo (10 th) di Semarang yang bikin saya terbelalak waktu mendengarkan mereka main piano. Menteri kita harusnya dalam 1 masa jabatan bisa menaruh posisi mereka setaraf Mozart di dunia internasional . Mozart itu jadi Mozart bukan hanya karena dia unik, tapi karena pemerintah Austria tahu cara "memungut"nya sebagai aset negara. Dan kita punya kok Mozart-Mozart juga.
Selain itu juga saya nggak ngerti dengan tiadanya Pusat Kebudayaan Indonesia di negara lain. Indonesia yang budayanya begitu kaya masa nggak punya semacam "Erasmus Huis" untuk Belanda atau "Goethe Institut" untuk Jerman sih?
9. apa kunci kesuksesan seorang Ananda Sukarlan? dan apa cita-cita yg belum tercapai?
akbar fauzan, Yogyakarta
Jawaban: 1. Menurut ayah saya (dan saya masih percaya walaupun beliau sudah almarhum) tidak ada 1 kunci kesuksesan, tapi ada 1 kunci kegagalan: berusaha menyenangkan hati semua orang. Itu yg saya selalu hindari. Makanya saya nggak demen politik. Soalnya menurut saya sukses adalah bebas & bisa melakukan apa yg kita senangi & kita percaya yang terbaik, bukan untuk menyenangkan siapapun. Apapun pendapat anda tentang saya adalah urusan anda, bukan urusan saya. Seni dan hiburan itu 2 hal yg sangat berbeda, demikian juga seniman dan selebritas. 2. Walaupun resminya saya Islam, saya percaya karma, dan setelah banyak mendapat berkah & keuntungan sekarang saatnya memberi dan membantu terutama ke anak2 muda dan yang kurang mampu, antara lain lewat Yayasan Musik Sastra Indonesia. Selain itu, kerja dengan anak2 muda bikin saya awet muda! Dalam segi artistik, masih ada 2 obsesi saya: Bikin lebih banyak opera, baik skala kecil maupun besar, dari karya sastra Indonesia. Yang lain adalah ingin memperkenalkan lagu-lagu rakyat Indonesia di dunia internasional, dengan cara membuat karya-karya "Rapsodia Nusantara" untuk piano yang virtuosik. Sama seperti cara kita mengenal lagu rakyat Hongaria lewat "Hungarian Rhapsodies"nya Franz Liszt. Saat ini sudah 8 nomor Rapsodia yang saya buat, dan saya berterima kasih kepada mereka yang mensponsorinya, terakhir adalah dr. Oei Hong Djien pemilik museum seni rupa yang besar di Magelang yang meminta saya membuat berdasarkan lagu rakyat Jawa. Selain itu, ehm..., buka restoran yang melayani makanan Padang DAN gudeg Jogja tapi yang benar2 asli. Itu dua makanan favorit yang selalu saya idamkan (apalagi kalau sedang musim dingin...); asik kan kalau bisa dapet 2 jenis makanan itu di 1 restoran?
10. Mas Ananda, selain musik klasik, apakah juga main musik lain? Jazz misalnya? Kalau iya, bagaimana cara mas Ananda berlatih musik jazz dan musik klasik? Terima kasih
ini inug,
Jawaban: Tidak, walaupun saya suka banget dengerin jazz. Bahkan saya nggak menganggap saya main musik, tapi melukis. Tapi kalau pelukis melukis di atas kanvas, sedangkan saya melukis di atas kesunyian. Disitu keindahan musik sastra: bukan di not-notnya saja, tapi juga apa yang ada di antara not-not itu .... dan itu yang tidak bisa lagi dimengerti dan dinikmati kalau kita terlalu banyak ke mall di Jakarta dan jadi kebal dengan bunyi musik yang bising dan terus-terusan disana.
11. Siapakah komponis musik klasik Eropa yang menjadi idola dan mempengaruhi kemampuan bermusik Mas Ananda?
Iman Sudibyo, Cirebon
Jawaban: Yg nggak saya kenal karena sudah keburu "pergi" adalah Shostakovich, Gustav Mahler, Sir Benjamin Britten (terutama opera2-nya) & Maurice Ravel (Piano Concerto-nya sudah saya mainkan puluhan kali dan masih nggak bosen!). Sedangkan yang saya kenal dan banyak belajar langsung dari mereka a.l. Sir Michael Tippett (yang saya anggap "penemu" saya yg pertama di Eropah dan merekomendasikan saya untuk disiarkan pertama kalinya di BBC di tahun 1994), Peter Sculthorpe (Australia) serta komponis Spanyol seperti David del Puerto dan Santiago Lanchares.
12. Pak Ananda Sukarlan,
Kami memiliki anak laki-laki usia 10,5 tahun. Sejak 3 tahun terakhir dia ikut kursus piano klasik di sebuah sekolah musik, atas keinginan anak tsb.
Informasi guru les nya, dia cukup cepat menangkap pelajaran yang diberikan. Yang menjadi masalah adalah, motivasi dia untuk menekuni piano klasik ini kurang konsisten. Tapi pada saat-saat tertentu dia semangat sekali. Guru lesnya dan kami sebagai orang tua yakin, kalau anak kami ini memiliki bakat di piano klasik.
Pertanyaan saya adalah: Bagaimana tetap menjaga konsistensi anak tersebut untuk tetap menekuni bakatnya, dan bagaimana kami memotivasinya dengan benar.?
Terima kasih
Salam.
Yohans Sunarno, Kota Bekasi
Jawaban: Wah itu juga sering terjadi dgn anak saya, tapi utk dia solusinya gampang. Tiap kali dia jenuh, saya bikinin dia lagu untuk dipelajari; lama2 lagu-lagu itu saya kumpulkan dan terbitkan di buku "Alicia's First Piano Book". Kalau putra anda lagi jenuh, mungkin butuh curhat ke teman? Mungkin ada masalah yang tidak dapat dibicarakan dgn orangtuanya, yang buat saya (sebagai seorang ayah) sangat wajar. Curhat ke orang lain sangat membantu meringankan uneg-uneg, terutama dengan yang memang berpengalaman di bidang yang lagi bermasalah itu. Kalau mau tweet ke saya boleh aja, twitter saya (@anandasukarlan) sering jadi "dokter konsultasi" kok, baik untuk para ortu maupun ABG. Jangan kuatir, anak saya yg sekarang 12 tahun juga suka curhat ke orang lain kok (terutama ngomongin papa-nya yang paling sebel sama Jonas Brothers yang dia kagumi).
13. - Anak umur 3 tahun,, bolehkah diikuti kursus musik ?
- bagaimana kita dapat mengetahui apakah anak kita menyukai music apa tidak ?
- alat musik apa yang mudah untuk anak anak umur 3 tahun ?
pearl priscillia, jakarta barat,
Jawaban: 1. Tentu saja boleh, tapi hati-hati pilih guru / sekolah musik ya. Saat ini terlalu menjamur & banyak yang kualitasnya tidak memadai yang efeknya akan kontraproduktif. 2. Tidak akan bisa tahu sebelum dia mulai main instrumen & mendengarkan banyak musik. Mulailah dengar musik Mozart, itu paling "bersahabat" dengan telinga anak. Lalu lanjutkan dengan "Piano Concerto no.2"nya Shostakovich dan "Peter & the Wolf"-nya Prokofiev. Dengarkan saya juga yang siaran dari Spanyol tiap Minggu malam di radio Delta atau Female FM, acara musik sastra, jadi ada "pengantar"nya dan cerita-cerita dibalik musiknya. 3. Hmm ... piano saja gimana?
14. 1) Kebanggaan terbesar apa yang pernah anda raih sebagai seorang pianis profesional?
2Pertunjukan apa yang paling berkesan yang pernah anda buat?mengapa? Nabila Azzahra Syahbani, Surabaya
Jawaban: 1. Kalau saya belum bisa membawa musik Indonesia ke taraf yang sama dengan musik komponis Eropah di dunia internasional saya belum berhak bangga deh. 2. Mungkin bukan pertunjukan, tapi pembuatan suatu karya. Misalnya lagu "Dalam Sakit" untuk tenor, permintaan dari AIDS Foundation dan saya dedikasikan ke para korban AIDS, mengingatkan kawan akrab saya yang wafat karena itu. Ia pemain biola yg luar biasa dan teman yang paling setia, dan kami pernah bercita-cita membuat duo yang terbaik di dunia. Sebetulnya banyak sekali karya-karya saya yang berdasarkan pengalaman pribadi, tapi ini yang mungkin "paling dalam lukanya" waktu menuliskannya.
15. Mas Ananda Sukarlan, Saya dengar Anda seorang Trekker (penggemar kisah fiksi ilmiah Star Trek) juga. Apa yang paling Anda senangi dari Star Trek dan tokoh siapa dalam kisah itu yang paling Anda kagumi? Live long & prosper.
Berthold Sinaulan, Jakarta Timur
Jawaban: Star Trek itu persis sama dengan musik sastra: we boldly go where no man has gone before. Dua-duanya juga mengejawantahkan satu hal yang sangat saya percaya walaupun masih dalam teori: paralel universe. Kita juga bisa tiba di satu semesta yang berbeda dalam hitungan mikro-detik. Saya pengagum pencetus ST, Gene Roddenberry: saya lebih percaya dia dan teori2nya yg berdasarkan research ilmiah daripada banyak "sejarah" misalnya: saya benar-benar tidak percaya bahwa orang sudah mendarat di bulan! Selain itu saya mengagumi Captain Jean-Luc Picard yg cocok mewakili abad 25 : seorang berwawasan luas dan sangat toleran dengan perbedaan. Saya nggak pernah ikut Pemilu karena tidak percaya kepemimpinan siapapun (saya pernah "salah" mengagumi Obama, tapi sekarang saya lihat dia ternyata "just another politician"), tapi kalau Picard jadi calon presiden saya langsung coblos deh.
16. Sebagai pianis, komponis, dan juga Trekkie, saya yakin Ananda Sukarlan ingin sekali mengisi soundtrack untuk film Star Trek tahun 2012 nanti. Sejauh manakah keinginan Anda untuk hal itu?
Ismanto Hadi Saputro, Jakarta ,
Jawaban: Wah, soundtrack Jerry Goldsmith di "Insurrection" atau Dennis McCarthy di "Generations" nggak ada yang menandingi lah. Itu sama seperti impian aktor yang ingin jadi James Bond: pingin sih, tapi setelah Sean Connery siapa yang bisa menandinginya? Saya sudah bbrp kali bikin musik buat film, dan tidak menutup kemungkinan bikin lagi (tentu saya harus merasa cocok dengan sutradaranya), tapi passion saya sebenarnya bukan bikin musik film tapi opera, karena musik film lebih mencerminkan suasana, sedangkan musik opera mencerminkan karakter orang atau tokoh. Kalau tentang Jean-Luc Picard sendiri saya bisa deh bikin musik, semacam leitmotif utk penokohannya, karena saya (dan pasti anda semua) mendambakan seorang pemimpin seperti itu. Saya yakin, Roddenberry menciptakan Picard berdasarkan apa yang digambarkan oleh filosof Plato di bukunya "The Republic". Saya kira gambaran seorang pemimpin menurut Plato itu hanya telah diejawantahkan oleh satu orang sebelum Picard: Mahatma Gandhi. Saya jauh lebih terinspirasi oleh manusia, karakter serta hasil karyanya daripada oleh suasana atau pemandangan alam, betapapun indahnya. Saya selalu melihat sesuatu yang indah di diri setiap orang yang membuat saya gampang kagum & jatuh cinta. Saya gampang jadi korban "Borg" nih: I am to be assimilated. Resistance is futile ....
1. Om Ananda, saya kini berusia 13 tahun. Sejak usia 5 tahun ikut kursus piano klasik sampai hari ini. Dibandingkan prestasi Om saat usia 13 tahun, saya bukan apa-apa. Apa yang perlu saya lakukan lagi.
Kinsky Gisela Mentari, Kampung Rambutan - Jakarta Timur,
Jawaban: Bukan apa-apa? Lho, waktu saya 13 th malah abis di dropout dari sekolah musik di Jakarta. Katanya, saya nggak berbakat! Jadi prestasimu udah lebih dari saya, ya kan? Tapi saya jalan terus sampai sekarang. Dengarkan kata hati dan ikutilah. Kalau memang cintanya di musik, teruslah. Mempelajari & berkarya seni itu nggak pernah selesai, karena itu perjalanan menuju kesempurnaan. Dan kita, manusia, tidak akan pernah bisa mencapainya. Keindahan berkarya seni ada di prosesnya, bukan tujuannya.
2. 1.Mohon saran dari Mas Ananda, bagaimana cara meningkatkan minat pelajar dan mahasiswa terhadap piano dan orkes? karena menurut saya, karya piano dan orkes mulai tenggelam di kalangan muda Indonesia .
Robert, Tangerang, Banten,
Jawaban: Kenapa film Hollywood sangat diminati? Karena gedung bioskop kualitas & kuantitasnya sudah memadai. Nah, gedung konser yang berakustik bagus, dengan sistem manajemen yg juga bagus belum ada satu pun. Gedung sih banyak, tapi tanpa konsep akustik yang benar. Jika kita belum bisa menganggap gedung (dan akustiknya) sebagai sebuah instrumen musik (seperti biola, piano), kita tidak bisa memilikinya. Di satu konser piano tunggal itu ada 1 musikus (pianis) dan 2 instrumen: piano dan akustik gedung: itu mesti selalu diingat. Bukan hanya piano. Dan tiap instrumen itu ada pembuatnya, yang merupakan ahlinya. Jadi akustik gedung bukan di desain oleh arsitek atau musikus, tapi oleh ... ahli akustik!
Mendengarkan satu konser di gedung yang akustiknya memadai (dan pemain yang bagus, tentu saja) itu adalah satu pengalaman yang luar biasa, pasti akan sangat menarik minat masyarakat untuk musik sastra. Sangat lain dengan mendengarkan rekaman (apalagi kalau bajakan!). Itu sebabnya orang Indonesia berbondong-bondong ke Singapur & Malaysia nonton konser. Gedung seperti Philharmonie Berlin atau Concertgebouw Amsterdam menjadi ikon kota itu, dan akan menarik orang untuk menjadi tempat "hang-out" yang "hip & cool", selain utk mendengarkan musik juga ketemuan dan ngobrolin musik (dan lain hal), dgn aktivitas lain seperti diskusi dan masterclasses ... dan tentu saja dengan "coffee shop" di berandanya yang enak dan nyaman dong! Banyak hal lain untuk menarik minat ke musik sastra, terutama dalam pendidikan & pengenalan yg kami lakukan lewat Yayasan Musik Sastra Indonesia. Cek saja website kami di www.musik-sastra.com
3. Apa saran Anda untuk anak SMU yang berniat memilih jurusan non-eksakta? Apa pendapat Anda mengenai steretotipe bahwa anak IPA lebih sukses dari yang non-IPA?
Fransiska Ully Artha Situmorang, Duren Tiga , Jakarta Selatan
Jawaban: Dukung 100% dong! Walaupun dulu di SMA (Kanisius di Jakarta) saya anak IPA, saya kayaknya "nyasar" deh. Apalagi seni itu sama sekali tidak eksak, malah seni itu justru semakin tinggi ambiguitasnya biasanya semakin artistik, kan? Lihat saja lukisannya Da Vinci atau naskahnya Shakespeare yang penuh dengan rahasia dan ambiguitas. Ah, sukses? Kalau sukses jadi ilmuwan atau pengusaha seperti keinginan orangtuanya, tapi hatinya ada di dunia seni misalnya, apa itu namanya sukses?
4. 1.saya cukup kagum dengan prestasi yang anda miliki, saya ingin menanyakan apa langkah terbesar yang anda lakukan sehingga anda menjadi pianis terkenal?
2.mengapa anda lebih memilih untuk tinggal di spanyol daripada di indonesia
mei rosseliny gultom, medan
Jawaban: 1. Terbang 10.000 km dari rumah setelah lulus SMA untuk meraih mimpi. Kurang besar gimana langkahnya coba? Tapi setelah itu karir sbg pianis ditentukan dengan memenangkan kompetisi2 internasional sewaktu saya muda. Sayangnya itu masih satu-satunya jalan memulai karir sampai saat ini. 2. Soalnya di Indonesia masih belum bisa berkarir & mencari nafkah sebagai pianis dan komponis. Dengan segala kesempatan yang ada di Eropah setelah kemenangan saya di berbagai kompetisi, siapa sih yang mau meninggalkan itu semua? Tapi saat ini tokh saya bisa lebih banyak berbuat untuk negara di luar negeri daripada di dalam negeri, kan? Oh ya, saya juga terus pegang paspor Indonesia, walaupun saya berkewarganegaraan dobel: Republik Indonesia & Kerajaan Galau hehe..
5. Pertanyaan : Apakah faktor keturunan (Bakat) mempengaruhi kemahiran seorang musikus dalam berkarya? Bagaimana bagi mereka yang tidak terlahir dalam keluarga seniman? Bisakah mereka menghasilkan karya setara dengan yang berbakat ?
Stella Chrisfanny, Cilincing Jakarta Utara,
Jawaban: Ah, keluarga saya juga bukan seniman kok. Saya anak bungsu dari 7, ortu dan kakak2 saya tidak ada yg jadi seniman. Bakat tentu saja membantu, tapi tidak mutlak. Semua itu 1% bakat dan 99% kerja keras.
6. Pertanyaan:
Ananda sudah konser di berbagai kota di Indonesia . Berkaitan dengan apresiasi audiens terhadap karya-karya yang Ananda tampilkan, apakah Ananda bisa menangkap karakter audiens dari masing-masing kota terhadap selera lagu/komposisi yang Ananda mainkan? Bagaimana Ananda menyesuaikan dengan karakter audiens yang berbeda tersebut?
Anton Asmonodento, Yogyakarta
Jawaban: Kalau dari satu negara mungkin tidak begitu kentara, tapi kalau beda negara iya. Yang terjadi di audiens adalah psikologi massa, dimana audience menjadi satu karakter, dan itulah cara saya berkomunikasi dengan mereka: menganggap mereka sebagai satu "orang" saja, satu orang yang benar2 saya ingin sampaikan apa yang ingin saya ekspresikan. Saya tidak perlu menyesuaikan di tiap negara, karena musik sastra, seperti seni lainnya, berbicara sama kepada siapapun. Seorang performer harus menjadi "bunglon" bukan terhadap audiensnya, tapi untuk jenis musik yg berbeda-beda cara interpretasinya. Banyak ulasan tentang ini saya tulis di blog saya http://andystarblogger.blogspot.com
7. Mas Andy,
Ada niat bikin karya tentang seorang menteri yang suka ngomong (ngetwit)
sembarangan ga?
Anita, Bandung , tabbyche@gmail.com
Jawaban: Sembarangan atau sembiringan? Ah, ogah beneeur. Mendingan untuk menteri seperti alm. Fuad Hassan yg telah banyak jasanya ke dunia pendidikan dan musik sastra (termasuk mengusahakan beasiswa waktu saya mau melanjutkan ke Belanda). Karya saya utk piano solo, Etude no. 3 "This Boy's Had a Dream" saya dedikasikan ke beliau. Tentu anda tahu, siapa "boy" yang bermimpi itu. Btw, setiap karya saya yang untuk seseorang itu pasti ada "pesan rahasia" terhadapnya, yang biasanya dekat atau selalu ada di hati saya. Seumur hidup saya nggak akan pernah lupa jasa pak Fuad.
8. . Dear Ananda
1. Sebagai Pianis senior yang telah lama bekecimpung dalam dunia musik apakah Anda melihat dan merasakan adanya kesenjangan terhadap perkembangan seni musik sebagai Ilmu Pengetahuan di negeri kita ini? Terimakasih.
Christanto Hadijaya, Yogyakarta
Jawaban: Sangat! Padahal harta karun musik (terutama etnik) Indonesia adalah sumber yang tak habis-habisnya di penciptaan karya-karya baru di Eropah. Selain itu pemerintah tidak mengerti mempromosikannya ke dunia internasional, yang dapat menjadi aset negara untuk memperbaiki image bangsa serta memasukkan devisa. Contoh: kita memiliki bakat-bakat yang luar biasa. Ini saya bukan "ngegombal", saya sudah lihat sendiri, paling tidak ada 2 anak kecil : Sally Yapto (9 th) di Surabaya dan Ralf Vivaldo (10 th) di Semarang yang bikin saya terbelalak waktu mendengarkan mereka main piano. Menteri kita harusnya dalam 1 masa jabatan bisa menaruh posisi mereka setaraf Mozart di dunia internasional . Mozart itu jadi Mozart bukan hanya karena dia unik, tapi karena pemerintah Austria tahu cara "memungut"nya sebagai aset negara. Dan kita punya kok Mozart-Mozart juga.
Selain itu juga saya nggak ngerti dengan tiadanya Pusat Kebudayaan Indonesia di negara lain. Indonesia yang budayanya begitu kaya masa nggak punya semacam "Erasmus Huis" untuk Belanda atau "Goethe Institut" untuk Jerman sih?
9. apa kunci kesuksesan seorang Ananda Sukarlan? dan apa cita-cita yg belum tercapai?
akbar fauzan, Yogyakarta
Jawaban: 1. Menurut ayah saya (dan saya masih percaya walaupun beliau sudah almarhum) tidak ada 1 kunci kesuksesan, tapi ada 1 kunci kegagalan: berusaha menyenangkan hati semua orang. Itu yg saya selalu hindari. Makanya saya nggak demen politik. Soalnya menurut saya sukses adalah bebas & bisa melakukan apa yg kita senangi & kita percaya yang terbaik, bukan untuk menyenangkan siapapun. Apapun pendapat anda tentang saya adalah urusan anda, bukan urusan saya. Seni dan hiburan itu 2 hal yg sangat berbeda, demikian juga seniman dan selebritas. 2. Walaupun resminya saya Islam, saya percaya karma, dan setelah banyak mendapat berkah & keuntungan sekarang saatnya memberi dan membantu terutama ke anak2 muda dan yang kurang mampu, antara lain lewat Yayasan Musik Sastra Indonesia. Selain itu, kerja dengan anak2 muda bikin saya awet muda! Dalam segi artistik, masih ada 2 obsesi saya: Bikin lebih banyak opera, baik skala kecil maupun besar, dari karya sastra Indonesia. Yang lain adalah ingin memperkenalkan lagu-lagu rakyat Indonesia di dunia internasional, dengan cara membuat karya-karya "Rapsodia Nusantara" untuk piano yang virtuosik. Sama seperti cara kita mengenal lagu rakyat Hongaria lewat "Hungarian Rhapsodies"nya Franz Liszt. Saat ini sudah 8 nomor Rapsodia yang saya buat, dan saya berterima kasih kepada mereka yang mensponsorinya, terakhir adalah dr. Oei Hong Djien pemilik museum seni rupa yang besar di Magelang yang meminta saya membuat berdasarkan lagu rakyat Jawa. Selain itu, ehm..., buka restoran yang melayani makanan Padang DAN gudeg Jogja tapi yang benar2 asli. Itu dua makanan favorit yang selalu saya idamkan (apalagi kalau sedang musim dingin...); asik kan kalau bisa dapet 2 jenis makanan itu di 1 restoran?
10. Mas Ananda, selain musik klasik, apakah juga main musik lain? Jazz misalnya? Kalau iya, bagaimana cara mas Ananda berlatih musik jazz dan musik klasik? Terima kasih
ini inug,
Jawaban: Tidak, walaupun saya suka banget dengerin jazz. Bahkan saya nggak menganggap saya main musik, tapi melukis. Tapi kalau pelukis melukis di atas kanvas, sedangkan saya melukis di atas kesunyian. Disitu keindahan musik sastra: bukan di not-notnya saja, tapi juga apa yang ada di antara not-not itu .... dan itu yang tidak bisa lagi dimengerti dan dinikmati kalau kita terlalu banyak ke mall di Jakarta dan jadi kebal dengan bunyi musik yang bising dan terus-terusan disana.
11. Siapakah komponis musik klasik Eropa yang menjadi idola dan mempengaruhi kemampuan bermusik Mas Ananda?
Iman Sudibyo, Cirebon
Jawaban: Yg nggak saya kenal karena sudah keburu "pergi" adalah Shostakovich, Gustav Mahler, Sir Benjamin Britten (terutama opera2-nya) & Maurice Ravel (Piano Concerto-nya sudah saya mainkan puluhan kali dan masih nggak bosen!). Sedangkan yang saya kenal dan banyak belajar langsung dari mereka a.l. Sir Michael Tippett (yang saya anggap "penemu" saya yg pertama di Eropah dan merekomendasikan saya untuk disiarkan pertama kalinya di BBC di tahun 1994), Peter Sculthorpe (Australia) serta komponis Spanyol seperti David del Puerto dan Santiago Lanchares.
12. Pak Ananda Sukarlan,
Kami memiliki anak laki-laki usia 10,5 tahun. Sejak 3 tahun terakhir dia ikut kursus piano klasik di sebuah sekolah musik, atas keinginan anak tsb.
Informasi guru les nya, dia cukup cepat menangkap pelajaran yang diberikan. Yang menjadi masalah adalah, motivasi dia untuk menekuni piano klasik ini kurang konsisten. Tapi pada saat-saat tertentu dia semangat sekali. Guru lesnya dan kami sebagai orang tua yakin, kalau anak kami ini memiliki bakat di piano klasik.
Pertanyaan saya adalah: Bagaimana tetap menjaga konsistensi anak tersebut untuk tetap menekuni bakatnya, dan bagaimana kami memotivasinya dengan benar.?
Terima kasih
Salam.
Yohans Sunarno, Kota Bekasi
Jawaban: Wah itu juga sering terjadi dgn anak saya, tapi utk dia solusinya gampang. Tiap kali dia jenuh, saya bikinin dia lagu untuk dipelajari; lama2 lagu-lagu itu saya kumpulkan dan terbitkan di buku "Alicia's First Piano Book". Kalau putra anda lagi jenuh, mungkin butuh curhat ke teman? Mungkin ada masalah yang tidak dapat dibicarakan dgn orangtuanya, yang buat saya (sebagai seorang ayah) sangat wajar. Curhat ke orang lain sangat membantu meringankan uneg-uneg, terutama dengan yang memang berpengalaman di bidang yang lagi bermasalah itu. Kalau mau tweet ke saya boleh aja, twitter saya (@anandasukarlan) sering jadi "dokter konsultasi" kok, baik untuk para ortu maupun ABG. Jangan kuatir, anak saya yg sekarang 12 tahun juga suka curhat ke orang lain kok (terutama ngomongin papa-nya yang paling sebel sama Jonas Brothers yang dia kagumi).
13. - Anak umur 3 tahun,, bolehkah diikuti kursus musik ?
- bagaimana kita dapat mengetahui apakah anak kita menyukai music apa tidak ?
- alat musik apa yang mudah untuk anak anak umur 3 tahun ?
pearl priscillia, jakarta barat,
Jawaban: 1. Tentu saja boleh, tapi hati-hati pilih guru / sekolah musik ya. Saat ini terlalu menjamur & banyak yang kualitasnya tidak memadai yang efeknya akan kontraproduktif. 2. Tidak akan bisa tahu sebelum dia mulai main instrumen & mendengarkan banyak musik. Mulailah dengar musik Mozart, itu paling "bersahabat" dengan telinga anak. Lalu lanjutkan dengan "Piano Concerto no.2"nya Shostakovich dan "Peter & the Wolf"-nya Prokofiev. Dengarkan saya juga yang siaran dari Spanyol tiap Minggu malam di radio Delta atau Female FM, acara musik sastra, jadi ada "pengantar"nya dan cerita-cerita dibalik musiknya. 3. Hmm ... piano saja gimana?
14. 1) Kebanggaan terbesar apa yang pernah anda raih sebagai seorang pianis profesional?
2Pertunjukan apa yang paling berkesan yang pernah anda buat?mengapa? Nabila Azzahra Syahbani, Surabaya
Jawaban: 1. Kalau saya belum bisa membawa musik Indonesia ke taraf yang sama dengan musik komponis Eropah di dunia internasional saya belum berhak bangga deh. 2. Mungkin bukan pertunjukan, tapi pembuatan suatu karya. Misalnya lagu "Dalam Sakit" untuk tenor, permintaan dari AIDS Foundation dan saya dedikasikan ke para korban AIDS, mengingatkan kawan akrab saya yang wafat karena itu. Ia pemain biola yg luar biasa dan teman yang paling setia, dan kami pernah bercita-cita membuat duo yang terbaik di dunia. Sebetulnya banyak sekali karya-karya saya yang berdasarkan pengalaman pribadi, tapi ini yang mungkin "paling dalam lukanya" waktu menuliskannya.
15. Mas Ananda Sukarlan, Saya dengar Anda seorang Trekker (penggemar kisah fiksi ilmiah Star Trek) juga. Apa yang paling Anda senangi dari Star Trek dan tokoh siapa dalam kisah itu yang paling Anda kagumi? Live long & prosper.
Berthold Sinaulan, Jakarta Timur
Jawaban: Star Trek itu persis sama dengan musik sastra: we boldly go where no man has gone before. Dua-duanya juga mengejawantahkan satu hal yang sangat saya percaya walaupun masih dalam teori: paralel universe. Kita juga bisa tiba di satu semesta yang berbeda dalam hitungan mikro-detik. Saya pengagum pencetus ST, Gene Roddenberry: saya lebih percaya dia dan teori2nya yg berdasarkan research ilmiah daripada banyak "sejarah" misalnya: saya benar-benar tidak percaya bahwa orang sudah mendarat di bulan! Selain itu saya mengagumi Captain Jean-Luc Picard yg cocok mewakili abad 25 : seorang berwawasan luas dan sangat toleran dengan perbedaan. Saya nggak pernah ikut Pemilu karena tidak percaya kepemimpinan siapapun (saya pernah "salah" mengagumi Obama, tapi sekarang saya lihat dia ternyata "just another politician"), tapi kalau Picard jadi calon presiden saya langsung coblos deh.
16. Sebagai pianis, komponis, dan juga Trekkie, saya yakin Ananda Sukarlan ingin sekali mengisi soundtrack untuk film Star Trek tahun 2012 nanti. Sejauh manakah keinginan Anda untuk hal itu?
Ismanto Hadi Saputro, Jakarta ,
Jawaban: Wah, soundtrack Jerry Goldsmith di "Insurrection" atau Dennis McCarthy di "Generations" nggak ada yang menandingi lah. Itu sama seperti impian aktor yang ingin jadi James Bond: pingin sih, tapi setelah Sean Connery siapa yang bisa menandinginya? Saya sudah bbrp kali bikin musik buat film, dan tidak menutup kemungkinan bikin lagi (tentu saya harus merasa cocok dengan sutradaranya), tapi passion saya sebenarnya bukan bikin musik film tapi opera, karena musik film lebih mencerminkan suasana, sedangkan musik opera mencerminkan karakter orang atau tokoh. Kalau tentang Jean-Luc Picard sendiri saya bisa deh bikin musik, semacam leitmotif utk penokohannya, karena saya (dan pasti anda semua) mendambakan seorang pemimpin seperti itu. Saya yakin, Roddenberry menciptakan Picard berdasarkan apa yang digambarkan oleh filosof Plato di bukunya "The Republic". Saya kira gambaran seorang pemimpin menurut Plato itu hanya telah diejawantahkan oleh satu orang sebelum Picard: Mahatma Gandhi. Saya jauh lebih terinspirasi oleh manusia, karakter serta hasil karyanya daripada oleh suasana atau pemandangan alam, betapapun indahnya. Saya selalu melihat sesuatu yang indah di diri setiap orang yang membuat saya gampang kagum & jatuh cinta. Saya gampang jadi korban "Borg" nih: I am to be assimilated. Resistance is futile ....
Etiquetas:
Benjamin Britten,
Jean-Luc Picard,
Kompas,
Prokofiev,
Star Trek,
Walt Whitman
martes, 7 de septiembre de 2010
Horribly lonely in Jakarta Post
A friend of mine sent and reminded me of an article (to be precise, interview) of me at the Jakarta Post supplement The Weekender, published sometime in 2008 after I turned 40. So I post it here to just realize that things haven't changed. Or, the more things change, the more it stays the same, unfortunately. Just one thing I'd like to rectify, today almost 2 years later. Barack Obama is certainly not my idol anymore, and definitely cannot be in the same list with Plato or Mahatma Gandhi. He turns out to be just a great public speaker and fundraiser, but it takes more than that to run a country. And the good thing about him is that he is still black.
Ananda Sukarlan: ‘I write my best music when I feel horribly lonely’
The Jakarta Post - WEEKENDER | Sun, 10/26/2008 3:11 PM |
Pianist Ananda Sukarlan is one of Indonesia’s chosen sons, bringing his musical talent to an international audience. Dutch and U.S. educated, he is now based in Spain, where he lives with his wife, Raquel, and young daughter. The winner of numerous accolades for his music, he achieved several milestones this year. On a personal level, he turned 40: “It feels great, I don’t feel old (am I supposed to?)” he says. On a professional level he composed a hymn for the Olympics that was performed throughout Asia, wrote his first cantata, Ars Amatoria, and his first opera, Mengapa Kau Culik Anak Kami (Why did you kidnap our child?). He is a thoughtful, independent thinker and speaks his mind – the qualities that have helped him succeed in the competitive world of music.
Your first memory?
Afternoon walks with my mom in the hospital garden behind my house, always wearing white (and tiny!) shoes.
And first musical memory?
Mozart’s Eine Kleine Nachtmusik.
If you hadn’t gone into music, what would you like to have been?
A poet. I just love poetry, and literature in general (perhaps more than music, since I am always accompanied by a good book) and I’m so envious of those great poets in how they find and combine all those beautiful words. Writing poems should be, I think, easier than writing music, since their materials are words which we use daily ... but why is it so difficult for me?
Your best trait?
I’m a hard worker, and when it comes to music, nobody has ever complained about my professionalism. It may sound arrogant, but for my artistic projects I only want to work with people who are also 200 percent dedicated to their work.
And worst?
If I have to finish (or even start) a piece of music and get stuck, I get sooooo moody. Try not to catch me during those periods!
Happiest moment of your life?
The birth of my daughter ... and the many days afterward.
And saddest?
When a friend or colleague stabs me in the back out of envy (which has happened more than once; well, this is the ugly business of beautiful music).
Who or what has been your most important teacher?
Number one: Life. Number two: Naum Grubert, my professor at the conservatory at The Hague. Number two and a half are all my other previous teachers in Jakarta: Myra Suryadi, Soetarno Soetikno, Laura Susanti, Rudy Laban.
What is the craziest thing you’ve done?
I took a free train ride from Amsterdam to Bordeaux to take part in a piano competition during my student days. I went and stayed in the toilet every time I saw the officer. I had money to buy a ticket for the way back, by the way, because I won first prize.
What would people be surprised to know about you?
I have this strange hormone in me which provokes the feeling of extreme loneliness (even if I am in a crowd). It’s been working inside me since I was a teenager. And that loneliness cannot be cured by just being with someone. When it happens, it usually indicates that I should write music. My best music is written when I am feeling horribly lonely.
The piece of music you wish you had written?
Leonard Bernstein’s West Side Story, Igor Stravinsky’s Symphony of Psalms, Maurice Ravel’s Piano Concerto.
Your favorite, hands-down winning culinary dish?
Gudeg Jogja in a particular warung near Gadjah Mada University in Yogya, Valencian Paella, Kobe Wagyu Beef-Steak (accompanied by a Dom Perignon).
The worst stereotype of the classical musician?
Not only of classical musicians, but of all artists, is being a “celebrity” and using art for fame and fortune. The problem is that the Indonesian public still confuses “artists” with “celebrities”. They are totally different! Art has nothing to do with being a celebrity, although celebrities are, in some cases, artists. You don’t really believe Paris Hilton or Lindsay Lohan are artists, right? One doesn’t have to be handsome to make great music, paintings or poetry.
Who inspires you?
In life, Barack Obama, Plato, Mahatma Gandhi, Pramoedya Ananta Toer. In music, Leonard Bernstein, Benjamin Britten, Beethoven.
You seem such a calm presence. What makes you angry?
Every time injustice is committed against anyone. Which happens to be part of everyday life.
If you could solve one thing in the world today, what would it be?
Eliminate capitalism from this planet. Capitalism has been, and still is, the main catalyst of injustice, massive hunger and poverty in many parts of the world, and the fast-spiraling degradation of the arts since art is a reflection of the society where it belongs.
If you could go back in time, what era would it be and why?
Ancient Greece. I’d love having a symposium with Socrates or Plato (apart from the fact there was no air pollution in those days)!
Dream dinner guests, living or dead?
The old Greek philosophers above, or Andy Warhol. They must have been really cool and crazy people.
Any regrets?
Falling in love with one who I should not have fallen in love with in the past.
Life motto?
“What you think about me is your problem, not my problem.”
+ Bruce Emond
Illustration by Martin Dima
Ananda Sukarlan: ‘I write my best music when I feel horribly lonely’
The Jakarta Post - WEEKENDER | Sun, 10/26/2008 3:11 PM |
Pianist Ananda Sukarlan is one of Indonesia’s chosen sons, bringing his musical talent to an international audience. Dutch and U.S. educated, he is now based in Spain, where he lives with his wife, Raquel, and young daughter. The winner of numerous accolades for his music, he achieved several milestones this year. On a personal level, he turned 40: “It feels great, I don’t feel old (am I supposed to?)” he says. On a professional level he composed a hymn for the Olympics that was performed throughout Asia, wrote his first cantata, Ars Amatoria, and his first opera, Mengapa Kau Culik Anak Kami (Why did you kidnap our child?). He is a thoughtful, independent thinker and speaks his mind – the qualities that have helped him succeed in the competitive world of music.
Your first memory?
Afternoon walks with my mom in the hospital garden behind my house, always wearing white (and tiny!) shoes.
And first musical memory?
Mozart’s Eine Kleine Nachtmusik.
If you hadn’t gone into music, what would you like to have been?
A poet. I just love poetry, and literature in general (perhaps more than music, since I am always accompanied by a good book) and I’m so envious of those great poets in how they find and combine all those beautiful words. Writing poems should be, I think, easier than writing music, since their materials are words which we use daily ... but why is it so difficult for me?
Your best trait?
I’m a hard worker, and when it comes to music, nobody has ever complained about my professionalism. It may sound arrogant, but for my artistic projects I only want to work with people who are also 200 percent dedicated to their work.
And worst?
If I have to finish (or even start) a piece of music and get stuck, I get sooooo moody. Try not to catch me during those periods!
Happiest moment of your life?
The birth of my daughter ... and the many days afterward.
And saddest?
When a friend or colleague stabs me in the back out of envy (which has happened more than once; well, this is the ugly business of beautiful music).
Who or what has been your most important teacher?
Number one: Life. Number two: Naum Grubert, my professor at the conservatory at The Hague. Number two and a half are all my other previous teachers in Jakarta: Myra Suryadi, Soetarno Soetikno, Laura Susanti, Rudy Laban.
What is the craziest thing you’ve done?
I took a free train ride from Amsterdam to Bordeaux to take part in a piano competition during my student days. I went and stayed in the toilet every time I saw the officer. I had money to buy a ticket for the way back, by the way, because I won first prize.
What would people be surprised to know about you?
I have this strange hormone in me which provokes the feeling of extreme loneliness (even if I am in a crowd). It’s been working inside me since I was a teenager. And that loneliness cannot be cured by just being with someone. When it happens, it usually indicates that I should write music. My best music is written when I am feeling horribly lonely.
The piece of music you wish you had written?
Leonard Bernstein’s West Side Story, Igor Stravinsky’s Symphony of Psalms, Maurice Ravel’s Piano Concerto.
Your favorite, hands-down winning culinary dish?
Gudeg Jogja in a particular warung near Gadjah Mada University in Yogya, Valencian Paella, Kobe Wagyu Beef-Steak (accompanied by a Dom Perignon).
The worst stereotype of the classical musician?
Not only of classical musicians, but of all artists, is being a “celebrity” and using art for fame and fortune. The problem is that the Indonesian public still confuses “artists” with “celebrities”. They are totally different! Art has nothing to do with being a celebrity, although celebrities are, in some cases, artists. You don’t really believe Paris Hilton or Lindsay Lohan are artists, right? One doesn’t have to be handsome to make great music, paintings or poetry.
Who inspires you?
In life, Barack Obama, Plato, Mahatma Gandhi, Pramoedya Ananta Toer. In music, Leonard Bernstein, Benjamin Britten, Beethoven.
You seem such a calm presence. What makes you angry?
Every time injustice is committed against anyone. Which happens to be part of everyday life.
If you could solve one thing in the world today, what would it be?
Eliminate capitalism from this planet. Capitalism has been, and still is, the main catalyst of injustice, massive hunger and poverty in many parts of the world, and the fast-spiraling degradation of the arts since art is a reflection of the society where it belongs.
If you could go back in time, what era would it be and why?
Ancient Greece. I’d love having a symposium with Socrates or Plato (apart from the fact there was no air pollution in those days)!
Dream dinner guests, living or dead?
The old Greek philosophers above, or Andy Warhol. They must have been really cool and crazy people.
Any regrets?
Falling in love with one who I should not have fallen in love with in the past.
Life motto?
“What you think about me is your problem, not my problem.”
+ Bruce Emond
Illustration by Martin Dima
Etiquetas:
Barack Obama,
Benjamin Britten,
Mengapa Kau Culik Anak Kami,
Mozart
miércoles, 14 de julio de 2010
Looking forward, and Foreword to Ananda Sukarlan Award 2010
This time my entry is in Indonesian, which is the foreword for ASA 2010.
"Music is the food of love" (William Shakespeare).
"Like food, if it's instant, it is junk" (Ananda Sukarlan)
Ananda Sukarlan Award 2010 kembali kami selenggarakan di tengah keadaan yang serba instan yang semakin marak. Ketenaran dan karir yang diraih langsung dari atas adalah ciri khas "seni" pertunjukan saat ini di Indonesia. Sayang sekali banyak yang lupa, jika anda mendarat langsung di puncak gunung, jalan satu-satunya yang ada hanyalah kebawah. Saya tidak pernah percaya ramalan baik Joyoboyo maupun Nostradamus, tapi saya hanya selalu percaya pada satu ramalan saja, yaitu dari seniman Andy Warhol di tahun 70-an: "In the future, everybody will be famous for 15 minutes". Dan hal itu sedang dalam proses realisasinya, baik berkat siaran-siaran TV dari Amerika Serikat yang menjanjikan ke"seniman"an dalam beberapa bulan sampai penawaran predikat "terbaik", "terbanyak" dan banyak ter- lainnya yang harganya lebih murah daripada sebuah mobil termurah pun. Masih terus terngiang-ngiang di telinga kita persembahan Glenn Gould memainkan Goldberg Variations dari tahun 70-an, atau konser terakhir Leonard Bernstein yang legendaris mengekspresikan Four Sea Interludes dari Benjamin Britten di tahun 1990. Tapi saat ini sebuah kejadian atau kreasi seni penting, betapapun tinggi nilai artistiknya, betapapun besar karya seninya, hanya akan terkenang selama sebuah status facebook belum diganti. Tidak ada lagi misteri dan ambiguitas lagi di dalam sebuah karya seni, karena semua misteri kini bisa dipecahkan lewat google.
Saya merasa sangat terharu bahwa ada sekitar 60 (dan pasti lebih lagi diluar ini) peserta ASA 2010 yang masih percaya akan jalan yang sulit dan berliku-liku dan "kuno" dalam dunia seni, khususnya musik sastra. Jalan tradisional inilah yang saya yakin akan menempa mereka menjadi seniman sejati yang mengerti liku-liku dunia ini, yang mau belajar dari kesalahan, yang mau menerima kritik dan kekurangan untuk memperbaikinya, yang mau jatuh berkali-kali tapi bangun berkali-kali lagi. Tidak ada kata "kalah" dalam dunia seni, tidak ada kata "salah" dalam berkespresi. Yang ada hanyalah introspeksi dan kerja keras yang terus menerus untuk mencapai puncak yang tidak akan bisa diraih oleh manusia manapun di planet ini, yang bernama "kesempurnaan".
Saya ingin mengucapkan selamat kepada para peserta ASA 2010. Dan juga rekan-rekan juri yang terdiri dari musikus-musikus yang sangat saya hormati dan kagumi yang punya kepercayaan yang sama dengan saya, terima kasih sedalam-dalamnya saya ucapkan. Tuhan memberkati anda dalam berkompetisi dengan anda sendiri untuk menjadi anda yang lebih baik di masa depan.
Pianistically yours,
Ananda Sukarlan
www.musik-sastra.com
"Music is the food of love" (William Shakespeare).
"Like food, if it's instant, it is junk" (Ananda Sukarlan)
Ananda Sukarlan Award 2010 kembali kami selenggarakan di tengah keadaan yang serba instan yang semakin marak. Ketenaran dan karir yang diraih langsung dari atas adalah ciri khas "seni" pertunjukan saat ini di Indonesia. Sayang sekali banyak yang lupa, jika anda mendarat langsung di puncak gunung, jalan satu-satunya yang ada hanyalah kebawah. Saya tidak pernah percaya ramalan baik Joyoboyo maupun Nostradamus, tapi saya hanya selalu percaya pada satu ramalan saja, yaitu dari seniman Andy Warhol di tahun 70-an: "In the future, everybody will be famous for 15 minutes". Dan hal itu sedang dalam proses realisasinya, baik berkat siaran-siaran TV dari Amerika Serikat yang menjanjikan ke"seniman"an dalam beberapa bulan sampai penawaran predikat "terbaik", "terbanyak" dan banyak ter- lainnya yang harganya lebih murah daripada sebuah mobil termurah pun. Masih terus terngiang-ngiang di telinga kita persembahan Glenn Gould memainkan Goldberg Variations dari tahun 70-an, atau konser terakhir Leonard Bernstein yang legendaris mengekspresikan Four Sea Interludes dari Benjamin Britten di tahun 1990. Tapi saat ini sebuah kejadian atau kreasi seni penting, betapapun tinggi nilai artistiknya, betapapun besar karya seninya, hanya akan terkenang selama sebuah status facebook belum diganti. Tidak ada lagi misteri dan ambiguitas lagi di dalam sebuah karya seni, karena semua misteri kini bisa dipecahkan lewat google.
Saya merasa sangat terharu bahwa ada sekitar 60 (dan pasti lebih lagi diluar ini) peserta ASA 2010 yang masih percaya akan jalan yang sulit dan berliku-liku dan "kuno" dalam dunia seni, khususnya musik sastra. Jalan tradisional inilah yang saya yakin akan menempa mereka menjadi seniman sejati yang mengerti liku-liku dunia ini, yang mau belajar dari kesalahan, yang mau menerima kritik dan kekurangan untuk memperbaikinya, yang mau jatuh berkali-kali tapi bangun berkali-kali lagi. Tidak ada kata "kalah" dalam dunia seni, tidak ada kata "salah" dalam berkespresi. Yang ada hanyalah introspeksi dan kerja keras yang terus menerus untuk mencapai puncak yang tidak akan bisa diraih oleh manusia manapun di planet ini, yang bernama "kesempurnaan".
Saya ingin mengucapkan selamat kepada para peserta ASA 2010. Dan juga rekan-rekan juri yang terdiri dari musikus-musikus yang sangat saya hormati dan kagumi yang punya kepercayaan yang sama dengan saya, terima kasih sedalam-dalamnya saya ucapkan. Tuhan memberkati anda dalam berkompetisi dengan anda sendiri untuk menjadi anda yang lebih baik di masa depan.
Pianistically yours,
Ananda Sukarlan
www.musik-sastra.com
Etiquetas:
Ananda Sukarlan Award,
bach,
Benjamin Britten,
Glenn Gould,
Leonard Bernstein
jueves, 25 de junio de 2009
When the black turned white (RIP Michael Jackson)
This morning, woken up and chased by the deadline of my piece for percussion and piano to be performed at the Meloritmos Festival in 3 weeks time, I am deeply saddened by the news of the passing away of my idol, Michael Jackson. He has certainly done to the 20th century world of music what Gustav Mahler did for the 19th century. Yeah, they are 2 different genres of music, but who is more influential to the music world in the fin-de-siecle period? How many composers (I mean "classical" ones) have been influenced by MJ ? I remembered talking passionately about MJ's music with 2 great figures, the late Sir Michael Tippett and Louis Andriessen (both of whose music have also influenced mine and my way of thinking). If you hear the "rap music" section in Tippett's opera NEW YEAR, well that was thanks to MJ. And I made my own version of rap music in my opera IBU--yang anaknya diculik itu, also thanks to MJ, in particular his Smooth Criminal. Two different versions, two different interpretations. Just two. I imagine there might be another ..10? 100? That is, I guess, what Stravinsky called "Music about music". And that proves just how rich MJ's music is and how he performed them, with his particular voice, body movements and style.
I can't help thinking about who, in my opinion, is the greatest figure of music in the second half of the 20th century. I won't agree if it were the Beatles, since their music is just "nice" and "beautiful" (which are 2 important elements as well!), but I doubt in the strength of the impact in the artistic world. You know what I mean, this posh circle of operas and contemporary classical music. If Mahler and Britten and especially Stravinsky were still alive, they won't be that immune from the strong influence of MJ, I bet you.
MJ's music has boldly gone where no man has gone before. RIP, Michael Jackson. I will always love you. And your music.
I can't help thinking about who, in my opinion, is the greatest figure of music in the second half of the 20th century. I won't agree if it were the Beatles, since their music is just "nice" and "beautiful" (which are 2 important elements as well!), but I doubt in the strength of the impact in the artistic world. You know what I mean, this posh circle of operas and contemporary classical music. If Mahler and Britten and especially Stravinsky were still alive, they won't be that immune from the strong influence of MJ, I bet you.
MJ's music has boldly gone where no man has gone before. RIP, Michael Jackson. I will always love you. And your music.
jueves, 21 de mayo de 2009
To boldly CHANGE that we can believe in
Now that's very fine, Mr. President, what you said about change. Most people are so conservative that they are afraid of any changes. In fact, one gets older in order to get settled down, and "well-established" instead of "seeking change, new life and new civilations". If one is comfortable with something, why change it, right? But what about this thing that happens to me now ? I am feeling a kind of change ... in my music. And it's not me who wanted this change. Now, that's ok, considering that I've been in and out writing music for the last 20 years, and I did have some changes in my musical language in the past. I do envy Rachmaninov who had been so consistent throughout his life. Even all his 4 piano concerti ends in the same manner: pam papapam !! (as if there are no other ways to end a piece of music). Oh yeah, I just finished my Rapsodia Nusantara no.4 a few days ago, and I was making sure that the ending is different from the 1st, 2nd and 3rd he he ..
Now back to change .. the thing is that I think I like my music more and more. I still am a Britten and Stravinsky wannabe, but hey, I write music because I want to listen to it and nobody has written it, that's why I write it down, right ? And then I know that many people also likes my music, and although I keep on telling this bulls**t to myself that "artists write not for people, but to express what they believe", I do feel flattered every time I realize that my music can "move" someone. Together with this change in my musical language, I also realized that I like new kinds of music which I wasn't really fond of previously. Two "H" composers have been my favorite lately : Hindemith and Hans Werner Henze. In the latter case, I even know him personally, and still wasn't a big fan of his music. Until recently, for the last few weeks.
So, what kind of change is happening ? First of all, with my 4th Rapsodia, I did something, an experiment if you like to call it so, which I never did before. I wrote about my method of composing in this blog about last month. At last it has 10 variations, but I couldn't avoid feeling rather jittery when I finished writing the variations, having 10 pieces of puzzle to construct. Even some silly questions popped up, such as "Why should the bare & naked theme appear in the beginning?" I still don't know if my "4th" would work as a solid construction, but that's the risk if one wants to "change". A work of art is never finished, said Paul Valery, and this phrase could serve as a big consolation in times like this ..
Another change is the harmony in my music : it's getting darker, and even thicker. Now usually when one gets older, his music tends to be simpler, more transparent. Just listen to all those guys : Beethoven, Liszt, oh well, most of them. And the bad news is ... I think you won't like it, folks. It's less "accessible", and shall we say, more "difficult listening" (in need for a better opposite of "easy listening").
Oh well, enough for now. Let me just go and boldly change. To seek out new music and new ideas .. Make it so, Number One! Energize !!
Now back to change .. the thing is that I think I like my music more and more. I still am a Britten and Stravinsky wannabe, but hey, I write music because I want to listen to it and nobody has written it, that's why I write it down, right ? And then I know that many people also likes my music, and although I keep on telling this bulls**t to myself that "artists write not for people, but to express what they believe", I do feel flattered every time I realize that my music can "move" someone. Together with this change in my musical language, I also realized that I like new kinds of music which I wasn't really fond of previously. Two "H" composers have been my favorite lately : Hindemith and Hans Werner Henze. In the latter case, I even know him personally, and still wasn't a big fan of his music. Until recently, for the last few weeks.
So, what kind of change is happening ? First of all, with my 4th Rapsodia, I did something, an experiment if you like to call it so, which I never did before. I wrote about my method of composing in this blog about last month. At last it has 10 variations, but I couldn't avoid feeling rather jittery when I finished writing the variations, having 10 pieces of puzzle to construct. Even some silly questions popped up, such as "Why should the bare & naked theme appear in the beginning?" I still don't know if my "4th" would work as a solid construction, but that's the risk if one wants to "change". A work of art is never finished, said Paul Valery, and this phrase could serve as a big consolation in times like this ..
Another change is the harmony in my music : it's getting darker, and even thicker. Now usually when one gets older, his music tends to be simpler, more transparent. Just listen to all those guys : Beethoven, Liszt, oh well, most of them. And the bad news is ... I think you won't like it, folks. It's less "accessible", and shall we say, more "difficult listening" (in need for a better opposite of "easy listening").
Oh well, enough for now. Let me just go and boldly change. To seek out new music and new ideas .. Make it so, Number One! Energize !!
Etiquetas:
Benjamin Britten,
Hans Werner Henze,
Hindemith,
Paul Valery,
Rachmaninov,
Rapsodia Nusantara,
Stravinsky
viernes, 18 de julio de 2008
Every language creates its own music
I had a really nice concert 2 days ago. Aning Katamsi and Joseph Kristanto "Akis" sang sooo well, and perhaps that's my best birthday present up till now. Nothing gives greater happiness to a composer than listening to his music so well performed. I am so grateful to those two friends.And thank you for all the emails, sms, and the attendance of 120 VVIP people in the concert ! This is an entry to respond to your answers and comments.
1. What is an Indonesian opera ? Well, this relates to the question "What is Indonesian classical music" (classical in the "western" idiom), and this kind of question was asked already about 100 years ago by the Americans, and starting about 50 years ago in countries such as Japan and Australia. Basically it was answered not by mere sentences, but by the creation of music by composers such as Aaron Copland, Roy Harris, Toru Takemitsu and Peter Sculthorpe. I believe that Indonesian music is simply music written by an Indonesian composer. Therefore, my music is included, even if I live already more than 20 years abroad and carrying the (heavy) influences of European music such as those of Benjamin Britten, Stravinsky or Sibelius. Or am I wrong in self-declaring my music as "Indonesian music" ? Is it not Indonesian enough ?
2. As my opera "Mengapa Kau Culik Anak Kami" is postponed (whew ! What a relief ! The music is completely, 100% finished, but surely with all the things happening, we won't be able to stage it in this period), we are trying to fix a date for its premiere for the beginning of 2009. Of course the singers will be the same, my brilliant friends Aning and Akis. And now that I get to know Akis' voice better (this is the first time that we worked together -- with more than satisfactorical results --), I would like to revise some parts of my opera. I wouldn't like to kill him now with all my falsetti ; I still want him to sing in all my operas (God grant me a long and prosper life) of the future !
3. Now about "Songs of the Night" (Nyanyian Malam). I will have to contradict myself saying earlier that it is written for any kind of voice, male or female, as long as they are within the register (Oh yes, I would like to stress again the fact that I usually conceive a song in its exact tonality -- perhaps due to my absolute pitch--, so I always feel uncomfortable to have my songs transposed to suit the registers of the singers. Sorry for being that fussy !). There are some songs which I couldn't imagine sung by the other kind of voice, such as :
- Tidurlah Intan, for female voice (medium - high)
- Di Depan Sebuah Lukisan, for male voice (and falsetto in the end !)
- Meninggalkan Kandang, for female voice (med-high)
- Kasih, definitely for male voice and DEFINITELY with all those dangerous falsetti for the last 2 pages ! Many thanx, Akis, for those beautiful, beautiful ones you did. I know you have worked a lot for it. My appreciation is never enough !
Apart from those songs, the rest can be sung by either male or female voice.
The next few days will be completely occupied by the Ananda Sukarlan Award, a national piano competition here in Jakarta. Chendra my manager has created a new blog containing all the infos about this event ; check it out at http://www.maestroatforty.blogspot.com . Yes, it's with the www in front, I don't know how Chendra did it. Anyway, let me use this opportunity to thank Chendra as well ; he's the person behind the scene of all those events, and I just don't understand how he managed to organize all of this. These organizing business is all Greek to me. My job is just writing all those notes, which I must admit, is 10 times easier than controlling our office with 7 people working simultaneously. I don't think I can even manage writing a 7-part fugue !
1. What is an Indonesian opera ? Well, this relates to the question "What is Indonesian classical music" (classical in the "western" idiom), and this kind of question was asked already about 100 years ago by the Americans, and starting about 50 years ago in countries such as Japan and Australia. Basically it was answered not by mere sentences, but by the creation of music by composers such as Aaron Copland, Roy Harris, Toru Takemitsu and Peter Sculthorpe. I believe that Indonesian music is simply music written by an Indonesian composer. Therefore, my music is included, even if I live already more than 20 years abroad and carrying the (heavy) influences of European music such as those of Benjamin Britten, Stravinsky or Sibelius. Or am I wrong in self-declaring my music as "Indonesian music" ? Is it not Indonesian enough ?
2. As my opera "Mengapa Kau Culik Anak Kami" is postponed (whew ! What a relief ! The music is completely, 100% finished, but surely with all the things happening, we won't be able to stage it in this period), we are trying to fix a date for its premiere for the beginning of 2009. Of course the singers will be the same, my brilliant friends Aning and Akis. And now that I get to know Akis' voice better (this is the first time that we worked together -- with more than satisfactorical results --), I would like to revise some parts of my opera. I wouldn't like to kill him now with all my falsetti ; I still want him to sing in all my operas (God grant me a long and prosper life) of the future !
3. Now about "Songs of the Night" (Nyanyian Malam). I will have to contradict myself saying earlier that it is written for any kind of voice, male or female, as long as they are within the register (Oh yes, I would like to stress again the fact that I usually conceive a song in its exact tonality -- perhaps due to my absolute pitch--, so I always feel uncomfortable to have my songs transposed to suit the registers of the singers. Sorry for being that fussy !). There are some songs which I couldn't imagine sung by the other kind of voice, such as :
- Tidurlah Intan, for female voice (medium - high)
- Di Depan Sebuah Lukisan, for male voice (and falsetto in the end !)
- Meninggalkan Kandang, for female voice (med-high)
- Kasih, definitely for male voice and DEFINITELY with all those dangerous falsetti for the last 2 pages ! Many thanx, Akis, for those beautiful, beautiful ones you did. I know you have worked a lot for it. My appreciation is never enough !
Apart from those songs, the rest can be sung by either male or female voice.
The next few days will be completely occupied by the Ananda Sukarlan Award, a national piano competition here in Jakarta. Chendra my manager has created a new blog containing all the infos about this event ; check it out at http://www.maestroatforty.blogspot.com . Yes, it's with the www in front, I don't know how Chendra did it. Anyway, let me use this opportunity to thank Chendra as well ; he's the person behind the scene of all those events, and I just don't understand how he managed to organize all of this. These organizing business is all Greek to me. My job is just writing all those notes, which I must admit, is 10 times easier than controlling our office with 7 people working simultaneously. I don't think I can even manage writing a 7-part fugue !
domingo, 29 de abril de 2007
Happy Birthday, David del Puerto

Tomorrow the 30th is the birthday of my friend and one of the most prominent Spanish composer of today, David del Puerto. This previous week has been indeed a "Del Puerto week" : our CD of his Second Symphony "Nusantara" and Violin Concerto has at last arrived in the Spanish shops ; I performed many of his piano pieces at the Spanish Residence (a historical place where Ravel, Stravinsky and others had stayed and presented their works when they were alive) last Thursday, and on Friday his ethereal, dark and deeply moving orchestral work "Variations in memory of Gonzalo de Olavide" was succesfully premiered, and repeated during the next two days. I could only go to the general rehearsal in the morning previous to the concert since I had to leave back home after lunch, but it was already excellently played by a young promising and highly talented conductor with whom we went out for lunch afterwards, Pablo Gonzalez. And he is very very nice as well, so he has a double merit ! The orchestra, by the way, was Orquesta Nacional de España who sounded brilliant under his baton, who I also heard with Beethoven's Second , to end the program.
I have known David for more than 12 years now. During those years our collaboration has given birth to many piano and chamber works, and culminated (but hopefully won't be the last !) in his masterpiece "Nusantara" for piano and orchestra. Now "Nusantara" has been hailed as "the great Spanish symphony", but I consider it as THE great Indonesian symphony as well, since it deals with many issues and even musical material from my country. It is rather ironic, isn't it, that the first symphony in history dealing with Indonesia is written by a Spanish composer ?
We both are a big fan of Death in Venice (both Thomas Mann's novel and Benjamin Britten's opera), and we took these photos during the Italian premiere of "Nusantara" in Teatro La Fenice, Venice last October 2006. That was the hotel where Mann was inspired to write his masterpiece ( it was David who told me that Tadzio was inspired by a real boy bathing at the beach right in front of the hotel) and also where Diaghliev died in one of its room. And we visited the tomb of our other idol, Igor the greatest, at the memorable Isola di San Marco. During this visit, David was inspired to write his Third Symphony, which he is writing now. Hopefully another masterpiece from the 43-year-young great composer.
sábado, 14 de abril de 2007
You will be assimilated. Resistance is futile.
That's what Borg always says. They are the no.1 enemy of any living being, member of the Federation of Planets. Even Captain Jean Luc Picard was once captured and assimilated by them. Assimilation is very powerful.
But I want to talk about gamelan music. What Debussy did, what Britten did, what Geoffrey King did and the most recent, David del Puerto. Our new CD of his Symphony no. 2 "Nusantara", by the way, is doing quite well in Italy, but it hasn't arrived at the Spanish CD shops ! Just yesterday David got a phone call from Juan Lucas, director of the Spanish distributor Diverdi, who has received the CDs from Milan and was absolutely, crazily, madly IN LOVE with his Symphony. David del Puerto will be featured in the next month's magazine of Diverdi, and they will start distributing them very soon. Anyway, it can be purchased at www.stradivarius.it .
Like the Borg (no plural, please. They are one.), assimilation is always done to "improve the life quality". Britten was stuck, you see, when he wrote his great ballet Prince of the Pagodas. In the middle of the (un-)creative process he travelled to Indonesia with Peter Pears, heard gamelan and then discovered how he should continue with the piece. Well, Debussy, David del Puerto and Geoffrey King haven't been to Indonesia, nevertheless they were very much influenced by gamelan music in some of their pieces. It's not just borrowing ; it's assimilation. Assimilation of different cultures. Not like Borg, and not like MacDonald or George W. Assimilation, not colonization. That's the future of classical music, I believe. Now that avantgarde is dying, and proved to be completely useless, assimilation is a good path to follow. Resistance is futile ! But let's talk about it in a few days time .... I have been composing many hours today and not feeling like sitting again in front of my computer ! I'll have a walk in my garden which now is totally covered with flowers of spring.
But I want to talk about gamelan music. What Debussy did, what Britten did, what Geoffrey King did and the most recent, David del Puerto. Our new CD of his Symphony no. 2 "Nusantara", by the way, is doing quite well in Italy, but it hasn't arrived at the Spanish CD shops ! Just yesterday David got a phone call from Juan Lucas, director of the Spanish distributor Diverdi, who has received the CDs from Milan and was absolutely, crazily, madly IN LOVE with his Symphony. David del Puerto will be featured in the next month's magazine of Diverdi, and they will start distributing them very soon. Anyway, it can be purchased at www.stradivarius.it .
Like the Borg (no plural, please. They are one.), assimilation is always done to "improve the life quality". Britten was stuck, you see, when he wrote his great ballet Prince of the Pagodas. In the middle of the (un-)creative process he travelled to Indonesia with Peter Pears, heard gamelan and then discovered how he should continue with the piece. Well, Debussy, David del Puerto and Geoffrey King haven't been to Indonesia, nevertheless they were very much influenced by gamelan music in some of their pieces. It's not just borrowing ; it's assimilation. Assimilation of different cultures. Not like Borg, and not like MacDonald or George W. Assimilation, not colonization. That's the future of classical music, I believe. Now that avantgarde is dying, and proved to be completely useless, assimilation is a good path to follow. Resistance is futile ! But let's talk about it in a few days time .... I have been composing many hours today and not feeling like sitting again in front of my computer ! I'll have a walk in my garden which now is totally covered with flowers of spring.
Suscribirse a:
Entradas (Atom)