sábado, 4 de junio de 2011

More complete interview at Kompas Kita, May 31 (in Indonesian)

I am deeply grateful to Kompas for not editing and/or cutting the interview done by their readers to me, published last Tuesday May 31st (which is also the birthday of my favorite poet, my hero & idol, Walt Whitman). However, due to the limits of space (I mean for the printed newspaper, not the final frontier!) KOMPAS can only publish 12 questions. They sent me 16 chosen questions which I have answered, out of the more than 50 questions that were sent by the reader throughout the country. I post here my answers of those 16 questions, hence there are 4 new topic here that you haven't read at the published article. It is, naturally, in Indonesian, but in case you don't understand it you can use Google translator who gets better every time.

1. Om Ananda, saya kini berusia 13 tahun. Sejak usia 5 tahun ikut kursus piano klasik sampai hari ini. Dibandingkan prestasi Om saat usia 13 tahun, saya bukan apa-apa. Apa yang perlu saya lakukan lagi.
Kinsky Gisela Mentari, Kampung Rambutan - Jakarta Timur,

Jawaban: Bukan apa-apa? Lho, waktu saya 13 th malah abis di dropout dari sekolah musik di Jakarta. Katanya, saya nggak berbakat! Jadi prestasimu udah lebih dari saya, ya kan? Tapi saya jalan terus sampai sekarang. Dengarkan kata hati dan ikutilah. Kalau memang cintanya di musik, teruslah. Mempelajari & berkarya seni itu nggak pernah selesai, karena itu perjalanan menuju kesempurnaan. Dan kita, manusia, tidak akan pernah bisa mencapainya. Keindahan berkarya seni ada di prosesnya, bukan tujuannya.

2. 1.Mohon saran dari Mas Ananda, bagaimana cara meningkatkan minat pelajar dan mahasiswa terhadap piano dan orkes? karena menurut saya, karya piano dan orkes mulai tenggelam di kalangan muda Indonesia .
Robert, Tangerang, Banten,
Jawaban: Kenapa film Hollywood sangat diminati? Karena gedung bioskop kualitas & kuantitasnya sudah memadai. Nah, gedung konser yang berakustik bagus, dengan sistem manajemen yg juga bagus belum ada satu pun. Gedung sih banyak, tapi tanpa konsep akustik yang benar. Jika kita belum bisa menganggap gedung (dan akustiknya) sebagai sebuah instrumen musik (seperti biola, piano), kita tidak bisa memilikinya. Di satu konser piano tunggal itu ada 1 musikus (pianis) dan 2 instrumen: piano dan akustik gedung: itu mesti selalu diingat. Bukan hanya piano. Dan tiap instrumen itu ada pembuatnya, yang merupakan ahlinya. Jadi akustik gedung bukan di desain oleh arsitek atau musikus, tapi oleh ... ahli akustik!
Mendengarkan satu konser di gedung yang akustiknya memadai (dan pemain yang bagus, tentu saja) itu adalah satu pengalaman yang luar biasa, pasti akan sangat menarik minat masyarakat untuk musik sastra. Sangat lain dengan mendengarkan rekaman (apalagi kalau bajakan!). Itu sebabnya orang Indonesia berbondong-bondong ke Singapur & Malaysia nonton konser. Gedung seperti Philharmonie Berlin atau Concertgebouw Amsterdam menjadi ikon kota itu, dan akan menarik orang untuk menjadi tempat "hang-out" yang "hip & cool", selain utk mendengarkan musik juga ketemuan dan ngobrolin musik (dan lain hal), dgn aktivitas lain seperti diskusi dan masterclasses ... dan tentu saja dengan "coffee shop" di berandanya yang enak dan nyaman dong! Banyak hal lain untuk menarik minat ke musik sastra, terutama dalam pendidikan & pengenalan yg kami lakukan lewat Yayasan Musik Sastra Indonesia. Cek saja website kami di www.musik-sastra.com

3. Apa saran Anda untuk anak SMU yang berniat memilih jurusan non-eksakta? Apa pendapat Anda mengenai steretotipe bahwa anak IPA lebih sukses dari yang non-IPA?
Fransiska Ully Artha Situmorang, Duren Tiga , Jakarta Selatan
Jawaban: Dukung 100% dong! Walaupun dulu di SMA (Kanisius di Jakarta) saya anak IPA, saya kayaknya "nyasar" deh. Apalagi seni itu sama sekali tidak eksak, malah seni itu justru semakin tinggi ambiguitasnya biasanya semakin artistik, kan? Lihat saja lukisannya Da Vinci atau naskahnya Shakespeare yang penuh dengan rahasia dan ambiguitas. Ah, sukses? Kalau sukses jadi ilmuwan atau pengusaha seperti keinginan orangtuanya, tapi hatinya ada di dunia seni misalnya, apa itu namanya sukses?

4. 1.saya cukup kagum dengan prestasi yang anda miliki, saya ingin menanyakan apa langkah terbesar yang anda lakukan sehingga anda menjadi pianis terkenal?
2.mengapa anda lebih memilih untuk tinggal di spanyol daripada di indonesia
mei rosseliny gultom, medan
Jawaban: 1. Terbang 10.000 km dari rumah setelah lulus SMA untuk meraih mimpi. Kurang besar gimana langkahnya coba? Tapi setelah itu karir sbg pianis ditentukan dengan memenangkan kompetisi2 internasional sewaktu saya muda. Sayangnya itu masih satu-satunya jalan memulai karir sampai saat ini. 2. Soalnya di Indonesia masih belum bisa berkarir & mencari nafkah sebagai pianis dan komponis. Dengan segala kesempatan yang ada di Eropah setelah kemenangan saya di berbagai kompetisi, siapa sih yang mau meninggalkan itu semua? Tapi saat ini tokh saya bisa lebih banyak berbuat untuk negara di luar negeri daripada di dalam negeri, kan? Oh ya, saya juga terus pegang paspor Indonesia, walaupun saya berkewarganegaraan dobel: Republik Indonesia & Kerajaan Galau hehe..

5. Pertanyaan : Apakah faktor keturunan (Bakat) mempengaruhi kemahiran seorang musikus dalam berkarya? Bagaimana bagi mereka yang tidak terlahir dalam keluarga seniman? Bisakah mereka menghasilkan karya setara dengan yang berbakat ?
Stella Chrisfanny, Cilincing Jakarta Utara,
Jawaban: Ah, keluarga saya juga bukan seniman kok. Saya anak bungsu dari 7, ortu dan kakak2 saya tidak ada yg jadi seniman. Bakat tentu saja membantu, tapi tidak mutlak. Semua itu 1% bakat dan 99% kerja keras.

6. Pertanyaan:
Ananda sudah konser di berbagai kota di Indonesia . Berkaitan dengan apresiasi audiens terhadap karya-karya yang Ananda tampilkan, apakah Ananda bisa menangkap karakter audiens dari masing-masing kota terhadap selera lagu/komposisi yang Ananda mainkan? Bagaimana Ananda menyesuaikan dengan karakter audiens yang berbeda tersebut?
Anton Asmonodento, Yogyakarta
Jawaban: Kalau dari satu negara mungkin tidak begitu kentara, tapi kalau beda negara iya. Yang terjadi di audiens adalah psikologi massa, dimana audience menjadi satu karakter, dan itulah cara saya berkomunikasi dengan mereka: menganggap mereka sebagai satu "orang" saja, satu orang yang benar2 saya ingin sampaikan apa yang ingin saya ekspresikan. Saya tidak perlu menyesuaikan di tiap negara, karena musik sastra, seperti seni lainnya, berbicara sama kepada siapapun. Seorang performer harus menjadi "bunglon" bukan terhadap audiensnya, tapi untuk jenis musik yg berbeda-beda cara interpretasinya. Banyak ulasan tentang ini saya tulis di blog saya http://andystarblogger.blogspot.com

7. Mas Andy,
Ada niat bikin karya tentang seorang menteri yang suka ngomong (ngetwit)
sembarangan ga?
Anita, Bandung , tabbyche@gmail.com
Jawaban: Sembarangan atau sembiringan? Ah, ogah beneeur. Mendingan untuk menteri seperti alm. Fuad Hassan yg telah banyak jasanya ke dunia pendidikan dan musik sastra (termasuk mengusahakan beasiswa waktu saya mau melanjutkan ke Belanda). Karya saya utk piano solo, Etude no. 3 "This Boy's Had a Dream" saya dedikasikan ke beliau. Tentu anda tahu, siapa "boy" yang bermimpi itu. Btw, setiap karya saya yang untuk seseorang itu pasti ada "pesan rahasia" terhadapnya, yang biasanya dekat atau selalu ada di hati saya. Seumur hidup saya nggak akan pernah lupa jasa pak Fuad.

8. . Dear Ananda
1. Sebagai Pianis senior yang telah lama bekecimpung dalam dunia musik apakah Anda melihat dan merasakan adanya kesenjangan terhadap perkembangan seni musik sebagai Ilmu Pengetahuan di negeri kita ini? Terimakasih.
Christanto Hadijaya, Yogyakarta
Jawaban: Sangat! Padahal harta karun musik (terutama etnik) Indonesia adalah sumber yang tak habis-habisnya di penciptaan karya-karya baru di Eropah. Selain itu pemerintah tidak mengerti mempromosikannya ke dunia internasional, yang dapat menjadi aset negara untuk memperbaiki image bangsa serta memasukkan devisa. Contoh: kita memiliki bakat-bakat yang luar biasa. Ini saya bukan "ngegombal", saya sudah lihat sendiri, paling tidak ada 2 anak kecil : Sally Yapto (9 th) di Surabaya dan Ralf Vivaldo (10 th) di Semarang yang bikin saya terbelalak waktu mendengarkan mereka main piano. Menteri kita harusnya dalam 1 masa jabatan bisa menaruh posisi mereka setaraf Mozart di dunia internasional . Mozart itu jadi Mozart bukan hanya karena dia unik, tapi karena pemerintah Austria tahu cara "memungut"nya sebagai aset negara. Dan kita punya kok Mozart-Mozart juga.
Selain itu juga saya nggak ngerti dengan tiadanya Pusat Kebudayaan Indonesia di negara lain. Indonesia yang budayanya begitu kaya masa nggak punya semacam "Erasmus Huis" untuk Belanda atau "Goethe Institut" untuk Jerman sih?


9. apa kunci kesuksesan seorang Ananda Sukarlan? dan apa cita-cita yg belum tercapai?
akbar fauzan, Yogyakarta
Jawaban: 1. Menurut ayah saya (dan saya masih percaya walaupun beliau sudah almarhum) tidak ada 1 kunci kesuksesan, tapi ada 1 kunci kegagalan: berusaha menyenangkan hati semua orang. Itu yg saya selalu hindari. Makanya saya nggak demen politik. Soalnya menurut saya sukses adalah bebas & bisa melakukan apa yg kita senangi & kita percaya yang terbaik, bukan untuk menyenangkan siapapun. Apapun pendapat anda tentang saya adalah urusan anda, bukan urusan saya. Seni dan hiburan itu 2 hal yg sangat berbeda, demikian juga seniman dan selebritas. 2. Walaupun resminya saya Islam, saya percaya karma, dan setelah banyak mendapat berkah & keuntungan sekarang saatnya memberi dan membantu terutama ke anak2 muda dan yang kurang mampu, antara lain lewat Yayasan Musik Sastra Indonesia. Selain itu, kerja dengan anak2 muda bikin saya awet muda! Dalam segi artistik, masih ada 2 obsesi saya: Bikin lebih banyak opera, baik skala kecil maupun besar, dari karya sastra Indonesia. Yang lain adalah ingin memperkenalkan lagu-lagu rakyat Indonesia di dunia internasional, dengan cara membuat karya-karya "Rapsodia Nusantara" untuk piano yang virtuosik. Sama seperti cara kita mengenal lagu rakyat Hongaria lewat "Hungarian Rhapsodies"nya Franz Liszt. Saat ini sudah 8 nomor Rapsodia yang saya buat, dan saya berterima kasih kepada mereka yang mensponsorinya, terakhir adalah dr. Oei Hong Djien pemilik museum seni rupa yang besar di Magelang yang meminta saya membuat berdasarkan lagu rakyat Jawa. Selain itu, ehm..., buka restoran yang melayani makanan Padang DAN gudeg Jogja tapi yang benar2 asli. Itu dua makanan favorit yang selalu saya idamkan (apalagi kalau sedang musim dingin...); asik kan kalau bisa dapet 2 jenis makanan itu di 1 restoran?

10. Mas Ananda, selain musik klasik, apakah juga main musik lain? Jazz misalnya? Kalau iya, bagaimana cara mas Ananda berlatih musik jazz dan musik klasik? Terima kasih
ini inug,
Jawaban: Tidak, walaupun saya suka banget dengerin jazz. Bahkan saya nggak menganggap saya main musik, tapi melukis. Tapi kalau pelukis melukis di atas kanvas, sedangkan saya melukis di atas kesunyian. Disitu keindahan musik sastra: bukan di not-notnya saja, tapi juga apa yang ada di antara not-not itu .... dan itu yang tidak bisa lagi dimengerti dan dinikmati kalau kita terlalu banyak ke mall di Jakarta dan jadi kebal dengan bunyi musik yang bising dan terus-terusan disana.

11. Siapakah komponis musik klasik Eropa yang menjadi idola dan mempengaruhi kemampuan bermusik Mas Ananda?
Iman Sudibyo, Cirebon
Jawaban: Yg nggak saya kenal karena sudah keburu "pergi" adalah Shostakovich, Gustav Mahler, Sir Benjamin Britten (terutama opera2-nya) & Maurice Ravel (Piano Concerto-nya sudah saya mainkan puluhan kali dan masih nggak bosen!). Sedangkan yang saya kenal dan banyak belajar langsung dari mereka a.l. Sir Michael Tippett (yang saya anggap "penemu" saya yg pertama di Eropah dan merekomendasikan saya untuk disiarkan pertama kalinya di BBC di tahun 1994), Peter Sculthorpe (Australia) serta komponis Spanyol seperti David del Puerto dan Santiago Lanchares.

12. Pak Ananda Sukarlan,
Kami memiliki anak laki-laki usia 10,5 tahun. Sejak 3 tahun terakhir dia ikut kursus piano klasik di sebuah sekolah musik, atas keinginan anak tsb.
Informasi guru les nya, dia cukup cepat menangkap pelajaran yang diberikan. Yang menjadi masalah adalah, motivasi dia untuk menekuni piano klasik ini kurang konsisten. Tapi pada saat-saat tertentu dia semangat sekali. Guru lesnya dan kami sebagai orang tua yakin, kalau anak kami ini memiliki bakat di piano klasik.
Pertanyaan saya adalah: Bagaimana tetap menjaga konsistensi anak tersebut untuk tetap menekuni bakatnya, dan bagaimana kami memotivasinya dengan benar.?
Terima kasih
Salam.
Yohans Sunarno, Kota Bekasi
Jawaban: Wah itu juga sering terjadi dgn anak saya, tapi utk dia solusinya gampang. Tiap kali dia jenuh, saya bikinin dia lagu untuk dipelajari; lama2 lagu-lagu itu saya kumpulkan dan terbitkan di buku "Alicia's First Piano Book". Kalau putra anda lagi jenuh, mungkin butuh curhat ke teman? Mungkin ada masalah yang tidak dapat dibicarakan dgn orangtuanya, yang buat saya (sebagai seorang ayah) sangat wajar. Curhat ke orang lain sangat membantu meringankan uneg-uneg, terutama dengan yang memang berpengalaman di bidang yang lagi bermasalah itu. Kalau mau tweet ke saya boleh aja, twitter saya (@anandasukarlan) sering jadi "dokter konsultasi" kok, baik untuk para ortu maupun ABG. Jangan kuatir, anak saya yg sekarang 12 tahun juga suka curhat ke orang lain kok (terutama ngomongin papa-nya yang paling sebel sama Jonas Brothers yang dia kagumi).


13. - Anak umur 3 tahun,, bolehkah diikuti kursus musik ?
- bagaimana kita dapat mengetahui apakah anak kita menyukai music apa tidak ?
- alat musik apa yang mudah untuk anak anak umur 3 tahun ?

pearl priscillia, jakarta barat,
Jawaban: 1. Tentu saja boleh, tapi hati-hati pilih guru / sekolah musik ya. Saat ini terlalu menjamur & banyak yang kualitasnya tidak memadai yang efeknya akan kontraproduktif. 2. Tidak akan bisa tahu sebelum dia mulai main instrumen & mendengarkan banyak musik. Mulailah dengar musik Mozart, itu paling "bersahabat" dengan telinga anak. Lalu lanjutkan dengan "Piano Concerto no.2"nya Shostakovich dan "Peter & the Wolf"-nya Prokofiev. Dengarkan saya juga yang siaran dari Spanyol tiap Minggu malam di radio Delta atau Female FM, acara musik sastra, jadi ada "pengantar"nya dan cerita-cerita dibalik musiknya. 3. Hmm ... piano saja gimana?

14. 1) Kebanggaan terbesar apa yang pernah anda raih sebagai seorang pianis profesional?
2Pertunjukan apa yang paling berkesan yang pernah anda buat?mengapa? Nabila Azzahra Syahbani, Surabaya
Jawaban: 1. Kalau saya belum bisa membawa musik Indonesia ke taraf yang sama dengan musik komponis Eropah di dunia internasional saya belum berhak bangga deh. 2. Mungkin bukan pertunjukan, tapi pembuatan suatu karya. Misalnya lagu "Dalam Sakit" untuk tenor, permintaan dari AIDS Foundation dan saya dedikasikan ke para korban AIDS, mengingatkan kawan akrab saya yang wafat karena itu. Ia pemain biola yg luar biasa dan teman yang paling setia, dan kami pernah bercita-cita membuat duo yang terbaik di dunia. Sebetulnya banyak sekali karya-karya saya yang berdasarkan pengalaman pribadi, tapi ini yang mungkin "paling dalam lukanya" waktu menuliskannya.


15. Mas Ananda Sukarlan, Saya dengar Anda seorang Trekker (penggemar kisah fiksi ilmiah Star Trek) juga. Apa yang paling Anda senangi dari Star Trek dan tokoh siapa dalam kisah itu yang paling Anda kagumi? Live long & prosper.
Berthold Sinaulan, Jakarta Timur
Jawaban: Star Trek itu persis sama dengan musik sastra: we boldly go where no man has gone before. Dua-duanya juga mengejawantahkan satu hal yang sangat saya percaya walaupun masih dalam teori: paralel universe. Kita juga bisa tiba di satu semesta yang berbeda dalam hitungan mikro-detik. Saya pengagum pencetus ST, Gene Roddenberry: saya lebih percaya dia dan teori2nya yg berdasarkan research ilmiah daripada banyak "sejarah" misalnya: saya benar-benar tidak percaya bahwa orang sudah mendarat di bulan! Selain itu saya mengagumi Captain Jean-Luc Picard yg cocok mewakili abad 25 : seorang berwawasan luas dan sangat toleran dengan perbedaan. Saya nggak pernah ikut Pemilu karena tidak percaya kepemimpinan siapapun (saya pernah "salah" mengagumi Obama, tapi sekarang saya lihat dia ternyata "just another politician"), tapi kalau Picard jadi calon presiden saya langsung coblos deh.

16. Sebagai pianis, komponis, dan juga Trekkie, saya yakin Ananda Sukarlan ingin sekali mengisi soundtrack untuk film Star Trek tahun 2012 nanti. Sejauh manakah keinginan Anda untuk hal itu?
Ismanto Hadi Saputro, Jakarta ,
Jawaban: Wah, soundtrack Jerry Goldsmith di "Insurrection" atau Dennis McCarthy di "Generations" nggak ada yang menandingi lah. Itu sama seperti impian aktor yang ingin jadi James Bond: pingin sih, tapi setelah Sean Connery siapa yang bisa menandinginya? Saya sudah bbrp kali bikin musik buat film, dan tidak menutup kemungkinan bikin lagi (tentu saya harus merasa cocok dengan sutradaranya), tapi passion saya sebenarnya bukan bikin musik film tapi opera, karena musik film lebih mencerminkan suasana, sedangkan musik opera mencerminkan karakter orang atau tokoh. Kalau tentang Jean-Luc Picard sendiri saya bisa deh bikin musik, semacam leitmotif utk penokohannya, karena saya (dan pasti anda semua) mendambakan seorang pemimpin seperti itu. Saya yakin, Roddenberry menciptakan Picard berdasarkan apa yang digambarkan oleh filosof Plato di bukunya "The Republic". Saya kira gambaran seorang pemimpin menurut Plato itu hanya telah diejawantahkan oleh satu orang sebelum Picard: Mahatma Gandhi. Saya jauh lebih terinspirasi oleh manusia, karakter serta hasil karyanya daripada oleh suasana atau pemandangan alam, betapapun indahnya. Saya selalu melihat sesuatu yang indah di diri setiap orang yang membuat saya gampang kagum & jatuh cinta. Saya gampang jadi korban "Borg" nih: I am to be assimilated. Resistance is futile ....